Abu Aisyah Official Web Site

Tag: tradisi jelek

Tradisi Otomatis Dapat Shaf Depan Tanpa Diminta

by Abu Aisyah on Nov.06, 2009, under Aktual, Catatanku

Negara Indonesia adalah negara yang paling lama dijajah oleh negara asing. Selama lebih dari 350 tahun dijajah, sehingga tradisi para bangsawan, menghormati kaum bangsawan masih terasa kental bahkan sampai sekarang. Bedanya sekarang orang yang berpangkat atau yang mempunyai kedudukan lebih dianggap orang yang terhormat, bahkan sampai-sampai bagi sebagian orang menganggap orang yang seperti itu masuk surga lebih dulu. Padahal orang yang masuk surga lebih dulu adalah orang yang tidak dilihat dari pangkat, harta, jabatan ataupun keturunan. Orang yang masuk surga lebih dulu adalah orang yang paling bertaqwa, yaitu dari kalangan nabi, kemudian orang-orang sholih, lalu orang-orang yang berada di pertengahan, yang terakhir adalah orang-orang yang amalnya sekecil dzarrah.

Yang sering kita lihat ketika sholat di sebuah masjid adalah, misalnya ada presiden, menteri, bupati atau walikota yang sholat di sana. Mereka pasti otomatis dapat shaf depan. Bahkan ta’mir masjid pun terkadang-kadang mewanti-wanti untuk menyisakan tempat di shaf depan. Padahal belum tentu mereka adalah orang-orang yang pantas berada di shaf depan, apalagi terkadang sholat ditunda-tunda sampai mereka datang, padahal saat itu di jama’ah sudah ada imam.

Sikap seperti ini sebenarnya tidak benar. Dari segi akal, dan dari segi syari’at sikap ini tidak bisa diterima. Entah dari mana hal ini seakan-akan telah mendarah daging di hati manusia-manusia jaman sekarang. Saya masih ingat ketika di kampus dulu, ketika ada tamu dari Angkatan Laut, seorang Jendral, sholat Jum’at saja pakai diatur agar tidak ada yang menempati shaf depan. Saya tidak setuju, tentu saja.

Syari’at itu telah jelas, bahwa shaf yang kosong akan dimasuki oleh syetan. Dan tuntunan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam adalah merapatkan dan meluruskan shaf. Hal ini tidaklah saya lihat pada jaman sekarang ini. Mereka merenggangkan shaf, mereka melapang-lapangkan shaf, kaki tidak bersentuhan, bahu tidak bersentuhan, bahkan ketika disentuh menghindar. Apabila seseorang makmum terlambat, ya mereka harus menjadi makmum masbuk. Apakah ketika seorang presiden terlambat misalnya, ia harus menyuruh seluruh orang yang sholat menyingkir atau yang lebih konyol mengulang lagi sholatnya? Tentu tidak.

Di zaman rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, Abu Bakar radhiyallahu’anhu pernah terlambat shalat. Namun beliau tidak diistimewakan oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan juga para shahabat lain. Terlambat ya terlambat, tempatnya di belakang. Dan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tidak mengistimewakan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Jaman sekarang ini tidak demikian, masyarakat ketika ada orang-orang yang dianggap lebih tinggi, mereka mengakhir-akhirkan sholat agar orang terhormat tersebut menempati shaf paling depan. Ya, seolah-olah orang-orang tersebut masuk surga pertama kali. Seolah-olah surga telah dibooking oleh mereka.

Kita adalah sama dalam menghadap Allah. Tidak ada yang diistimewakan. Allah melihat kita semuanya adalah sama. Apapun kedudukan kita, jabatan kita, harta kita, sesungguhnya tidak ada artinya dihadapan Allah. Allah tidaklah melihat itu semua, tapi Allah melihat iman dan taqwa kita. Jadi percuma saja kalau mengontrak shaf depan tapi hatinya masih thoghut, hatinya masih kotor, dan imannya masih sering goyah. Memang shaf pertama itu ada keutamaan, tapi dengan membooking shaf depan itu tidak ada contohnya dari para shahabat ataupun dari para salafush sholeh. Anda tak percaya? Kita lihat saja bagaimana yang terjadi di masyarkaat! Ini realita, dan banyak terjadi. Tradisi feodal ternyata masih mengakar di Indonesia.

1 Comment : more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!