Abu Aisyah Official Web Site

Tag: terorisme

Menyoal Intel Masuk ke Pengajian untuk Memata-matai Dakwah

by Abu Aisyah on Sep.04, 2009, under Aktual, Catatanku

Isu terorisme telah mengguncangkan negara ini. Dan sekali lagi umat Islam diuji, dan yang lebih parah lagi adalah hal ini terjadi di dalam negara kita. Di dalam negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Mereka seperti terpenjara dari kebebasan berdakwah.

Semenjak Kapolri memerintahkan untuk mengawasi dakwah di masjid-masjid, maka semenjak itu pula polisi berpakaian preman memasuki pengajian-pengajian. Bahkan untuk beberapa kasus sendiri menyuruh seluruh ustadz-ustadz yang berceramah agar melakukan wajib lapor untuk ceramahnya. Kaum muslimin pun diliputi kegalauan, keresahan dan kecemasan. Apalagi ketika ustadz-ustadz tersebut membahas masalah jihad yang sensitif. Apakah ketika menjelaskan tentang perang di jaman rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam harus dicurigai sebagai pemahaman teroris? Atau ketika menjelaskan tentang wajibnya jihad apakah sudah dianggap teroris?

Yang paling parah adalah beberapa waktu lalu disiarkan di salah satu radio di kota Malang oleh Kapolres. Secara garis besar adalah untuk mencurigai orang-orang yang bercadar, berjenggot, berpakaian ghamis, dan memakai celana cingkrang. Kenapa harus dicurigai? Karena mereka dianggap sebagai teroris. Subhanallah. Perlukah seorang muslim yang darahnya haram, hartanya haram itu dicurigai. Kalau begitu jangan katakan bahwa Isu terorisme ini bukan isu agama, “Ini jelas-jelas merupakan isu agama”. Bagaimana tidak. Orang yang ingin beribadah untuk Allah dan Rasul-Nya harus dicurigai sebagai penebar teror. Sementara para pelaku kemaksiatan yang jelas-jelas bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dibiarkan bebas? Seperti inikah sikap para polisi “yang sama sekali tidak faham masalah syari’at itu”?

Cadar itu ada syari’atnya, jenggot itu ada syari’atnya, celana cingkrang itu ada syari’atnya. Lalu kenapa harus diwaspadai? Dan juga kenapa harus memasukkan intel ke dalam pengajian-pengajian, ceramah-ceramah ustadz-ustadz diawasi, seperti di jaman kolonial saja. Apalagi polisi juga mengambil sumber yang salah dalam memahami firqoh-firqoh yang ada di Indonesia. Mereka menganggap bahwa wahabi adalah sebuah sempalan Islam yang ekstrim, apalagi televisi seperti Trans7 dan TransTV, ataupun MetroTV mengambil informasi dari orang-orang liberal, dari orang-orang seperti Ulil Abshar, dari kaum shufi, dari kaum Syi’ah, yang mana mereka semua adalah musuh dari sunnah. (continue reading…)

Leave a Comment :, more...

Media Seperti Musuh Islam

by Abu Aisyah on Aug.19, 2009, under Aktual, Catatanku

Terorisme, Islam dan Media

Terorisme sekarang ini bukan hal baru. Terlebih lagi, ketika pertama kali digembar-gemborkannya oleh George W. Bush. Itulah puncak pertama kali dunia ini dihebohkan dengan yang namanya teroris. Namun anehnya fokus teroris walaupun dengan perkataan “teroris bukan Islam”, tetap saja fokusnya kepada umat Islam. Bagaimana tidak? Ketika tahun 1970-1980-an kita dulu mengenal yang namanya Komando Jihad. Ini juga merupakan isu-isu yang berkembang kala itu, fokusnya sama yaitu umat Islam. Seolah-olah, umat Islam adalah umat yang gemar melakukan teror, apalagi ketika dunia semakin takut terhadap serangkaian serangan-serangan bom.

Kita bisa mengenal, kita bisa mengetahui siapa pelaku bom ini, adalah dari media. Media tak 100% salah, namun media juga bisa membentuk opini disebuah masyarakat. Sebagaimana seorang tukang becak, ketika dia membaca koran, dan di koran tersebut ada informasi yang sangat jelas, maka dia akan mengambil opini. Berbeda ketika seseorang yang memahami fakta yang ada, namun kemudian muncul berita di koran yang bertolak dari fakta yang ia ketahui, maka ia akan menyalahkan media tersebut. Dan sebenarnya, banyak diantara kabar yang ada di media dilebihkan, ataupun dibuat heboh, ya saya tahu itu untuk menarik orang membeli koran, ataupun menonton televisi yang dipenuhi iklan, namun yang menjadi masalah adalah opini yang berkembang di masyarakat dari sesuatu yang ditonjolkan dalam media tersebut.

Isu terorisme sendiri sangatlah aneh, hal ini selalu muncul ketika negara ini akan timbul suatu peristiwa besar, sebut saja sekarang ini pemilu. Atau mungkin ketika akan ada konferensi di Indonesia, atau dalam event-event yang lainnya. Terlebih lagi, tidak lebih yang bisa dikatakan pelaku sendiri adalah orang Islam, dengan ciri-ciri tertentu, bahkan dianggap ia berpemahaman jihad dan sebagainya. Yang lebih aneh lagi, media tidak pernah membeberkan pelaku-pelaku kriminal yang sudah jelas-jelas melakukan tindak kejahatan, seperti kasus Nasrudin dan Antasari Azhar. Selama ini kita tidak pernah tahu siapa sih tokoh penembak itu, siapa sih orang ini? Tapi ketika berita tentang teroris mencuat, maka media seolah-olah sangat detail sekali mengekspos pelaku teroris tersebut. Hal ini tentu saja sangat aneh, apakah media sekarang sudah dibeli? Tidak ada yang tahu.

Saat ini banyak orang yang mengait-ngaitkan teroris ini adalah salah satu kelompok wahabi yang ekstrim. Bahkan hal ini diperkuat oleh mantan kepala BIN yang memberikan opini-nya pada sebuah acara di TV One. Entah karena dia tidak tahu tentang wahabi, ataukah ia ingin memberikan berita yang ngawur, atau ia takut sesuatu, atau memang ia bodoh sehingga mengatakan bahwa wahabi adalah salah satu kelompok radikal di Islam yang sesat. Lalu apakah yang disebut tidak sesat itu seperti liberal, sufi, syi’ah dan sebagainya? Justru ini mengingatkan kita kepada nasehat Allah untuk tidak sembarangan mengambil ilmu dari orang yang tidak tahu ilmu, sebagaimana firman-Nya:

artinya: “Maka bertanyalah kamu kepada orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui”. [Q.S. An Nahl: 43]

Intinya adalah sekarang ini masyarakat lebih berhati-hati terhadap orang yang mempunyai potongan berjenggot, bercelana cingkrang, memakai ghamis, bercadar, menjual obat-obatan herbal seperti madu atau habatus saudah. Bahkan bagi sebagian orang yang awam terhadap hal ini, yang dianggap wahabi adalah mereka yang tidak ikut qunut subuh. Padahal qunut subuh adalah salah satu bentuk khilaf. Intinya adalah opini yang berkembang di masyarakat ini menyebabkan banyak gesekan-gesekan dan tentu saja perpecahan yang terjadi pada sebuah bangsa yang bersatu.

Coba seandainya media tidak terlalu menggembar-gemborkan masalah terorisme, cukup diberitakan seperlunya. Maka yang terjadi adalah masyarakat masih merasa aman, dan tidak timbul gesekan-gesekan yang membuat banyak perbedaan-perbedaan yang seharusnya tidak perlu dibesarkan menjadi semakin besar. Intinya adalah yang terjadi sekarang ini adalah penindasan publik dari sebuah media. Karena itu sangat disayangkan sekali hal ini harus terjadi. Terlebih apabila memang orang-orang yang disebut sebagai “wahabi” tersebut tidaklah berbuat yang macam-macam, menteror orang, atau mengajari teror kepada orang lain. (continue reading…)

2 Comments :, , , , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!