Tag: pemerintahan
Pendapat Saya Tentang Pemilu
by Abu Aisyah on Mar.17, 2009, under Aktual, Catatanku
Bismillahirahmaanirrahiim.
Alhamdulillah. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Ini adalah pendapat pribadi saya tentang Pemilu yang akan dilaksanakan di negara ini. Sekaligus menjelaskan kedudukan saya.
Sebenarnya juga saya tidak faham urusan perpolitikan. Dan juga tidak faham, mau dibawa kemana negara ini oleh orang-orang yang sekarang berkecimpung di dunia perpolitikan. Apakah mereka tak punya malu untuk merusak negara ini? Ataukah mereka ingin membangun negara ini di atas kebodohan? Ataukah mereka ingin menghancurkan negara ini dengan simbol-simbol nasionalis, agamis, atau apalah yang mereka punya.
Kalau melihat calon legeslatif-calon legeslatif yang ada di masa sekarang ini, saya melihat tidak ada satupun yang sreg di hati saya. Apalagi mereka sangat narsis, tidak mengedepankan dakwah, tidak memberikan sumbangsih apapun terhadap dunia Islam. Dan ironis sekali yang mereka besar-besarkan adalah bid’ah-bid’ah seperti maulid, haul dan semacamnya. Saya tidak butuh mereka yang memberikan sembako, atau mereka yang memberikan embel-embel janji yang muluk-muluk, saya hanya inginkan seorang yang paling berani untuk bisa bicara lantang sekalipun setiap peluru diancam ke arahnya ataupun setiap pedang ingin memotong lehernya yang berkata , “Sembahlah Allah dan jauhilah Thoghut!”. Ketika saya merenungi negara ini, saya pun menangis, bahwa tidak ada satupun diantara orang-orang yang menjadi pemimpin kami orang-orang seperti itu. Dan aku berdo’a untuk kebaikan pemimpin,” Yaa Allah berikanlah kebaikan pada pemimpin kami, ampunilah dosa-dosa mereka dan berikanlah kami pemimpin yang mendakwahkan untuk menyembahmu dan menjauhi thoghut”. (continue reading…)
Cara Membangun Rumah yang Benar bag 3
by Abu Aisyah on Mar.04, 2009, under Catatanku, Uncategorized
Memahami bahwa Allah adalah Satu-satunya Tempat Kembali
Seorang muslim haruslah memikirkan tentang kemana dia akan kembali. Itulah makna dari syahadat yang pertama. Dengan mengakui bahwa Allah adalah Ilaah, maka orang tersebut menyerahkan sepenuhnya hidupnya kepada Allah. Dengan mengimani perjumpaan dengan Al Khaliq, sehingga apapun yang ia lakukan ia akan terus ingat kepada-Nya. Maka dari itu, ketika seseorang yang beriman kepada Allah terjerumus ke dalam kemaksiatan hatinya tertutup dari mengingat Al Khaliq. Syaithon telah menutupi hatinya, sehingga orang yang hatinya tertutup akan lupa terhadap Al Khaliq. Syaithon berusaha untuk menggoda manusia, maka tak jarang pula orang yang alim, ataupun ustadz-pun terkena godaan. Dan syaithon akan menang ketika yang digoda berbuat syirik, sebab perbuatan syirik tidak diampuni oleh Allah.
” من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ” أخرجاه
“Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. (HR. Bukhori & Muslim)
Hadits tersebut berbicara tentang keutamaan tauhid dan dosa yang diampuni olehnya. Dengan beriman dengan sebenar-benarnya, maka Allah pasti akan mengampuni orang tersebut, sekalipun dosanya seberat bumi.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah bersabda :
” فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله “
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkanلا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
” قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله ” (رواه ابن حبان والحاكم وصححه).
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Allah berfirman :”Ucapkan hai Musaلا إله إلا الله ”, Musa berkata : “Ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimatلا إله إلا الله diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimatلا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Imam Hakim sekaligus menshohehkannya).
Cara Membangun Rumah yang Benar bagian 2
by Abu Aisyah on Feb.21, 2009, under Aktual, Catatanku, Uncategorized
A. Membangun Pondasi-Pondasi
Di dalam agama ini apakah yang paling utama? Tentu saja iman. Sebab iman inilah yang menjadi bekal nantinya sebuah bangunan bisa berdiri tegak. Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang mana Allah telah menjadikan umat ini lebih baik daripada umat-umat sebelumnya, maka harus difahami bahwa iman itu mempunyai rukun-rukun, dan rukun itu tidaklah berkurang dan bertambah. Rukun-rukun itu tidak bisa tidak untuk dita’ati, dan barangsiapa yang melanggar salah satu rukun saja, maka imannya dianggap batal alias murtad.
Rukun Iman yaitu, Iman Kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab, Iman kepada Rasul, Iman kepada Hari Akhir, Iman Kepada Taqdir. Dan poros inti dari setiap iman itu adalah Iman Kepada Allah. Iman kepada Allah inilah disebut sebagai tauhid. Islam adalah agama tauhid. Dan setiap ibadah tanpa di dasari oleh tauhid maka ibadah itu rusak dan tidak diterima oleh Allah Azza Wa Jalla.
Ad Diin, sebenarnya mengatur seluruh kehidupan manusia, mulai dari manusia itu lahir sampai mati, mulai dari manusia itu bangun dari tidur sampai tidur lagi. Tidakkah anda semua melihat bahwasannya kita sebagai manusia terlahir di dunia ini adalah karena Ad Diin itu sendiri. Ya, Allah telah menjadi pengatur, karena ialah Maha Pengatur. Segala urusan kita, baik kita sadari atau tidak segalanya telah diatur oleh Allah. Karena Allah yang menjadi pengatur, maka sudah sepantasnya kita tunduk kepada-Nya. Allah juga adalah Al Kholiq, pencipta. Yang mana setiap ciptaan-Nya tiadalah yang sia-sia. Segalanya punya hikmah, punya fungsi, punya andil dalam mengisi kehidupan. Sebagaimana Allah menciptakan surga dan neraka, Allah menciptakan waktu, Allah menciptakan jin dan manusia, Allah menciptakan setiap hal yang bisa dilihat dan tidak bisa dilihat. Segalanya punya hikmah. Bahkan hikmah-hikmah itu ada yang diketahui ada yang tidak.
Sebegitu Maha Besarnya Allah, apakah kita akan berpaling dari sang Pencipta? Kita tanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah berterima kasih kepada yang telah memberikan nyawa kepada kita, yang telah memberikan kita hidup dan kita bisa makan di bumi-Nya, di bawah langit-Nya. Apakah kita benar-benar sudah berterima kasih, bersyukur terhadap-Nya yang telah memberikan kaki dan tangan agar kita bisa melangkah dan meraih apapun yang ada di sekitar kita? Kita juga apakah sudah bersyukur terhadap penglihatan yang mana tanpa penglihatan itu kita akan menderita seumur hidup? Apakah kita juga sudah bersyukur terhadap waktu yang diberikan kepada kita untuk mengingat-Nya? (continue reading…)




