
Apakah Nabi Muhammad itu Pedofilia?
Beberapa diskusi yang diusung oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam adalah selalu mencemooh figur orang yang kita junjung, yaitu nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, seorang rasul dan tidak ada orang yang bisa menyamai beliau, sebab Allah telah memilih dari setiap manusia orang yang terbaik untuk membawa syari’at ini. Mustahil apabila seorang rasul mempunyai penyakit jiwa, atau kelainan-kelainan psikologis seperti yang dituduhkan oleh orang-orang orientalis, feminis dan juga orang-orang yang memang sejalan dengan pemikiran mereka.
Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam seperti yang kita tahu, lahir dari suku Quraisy. Saat itu suku Quraisy, sangat terkenal dalam menjaga nasab. Pada zaman dahulu orang-orang yahudi dan orang-orang arab terkenal dalam menjaga nasab mereka. Maka dari itulah, pelacur bagi mereka adalah pekerjaan yang hina. Dan para pezina yang ada pada zaman tersebut, benar-benar dicemooh, dan dikucilkan. Dan pada zaman jahiliyah tersebut apabila seorang wanita melahirkan bayi perempuan, maka niscaya bayi tersebut akan diacuhkan, serasa tidak disayang. Karena bayi laki-laki adalah harapan bagi setiap orang kala itu.
Saya merasa gatal mendengar orang-orang yang mengatakan bahwa nabi itu pedofilia, poligamis dan seterusnya. Saya termasuk orang yang cepat emosi mendengarkan kaum-kaum feminis berkata demikian. Mereka menyerukan kesetaraan gendher, menghalalkan transgender dan juga bahkan menghalalkan lesbian. Beberapa dari mereka juga menghina Islam sebagai agama yang keras, anarkhis, poligamis dan sebagainya. Ada kalanya pernyataan mereka tidak perlu ditanggapi, apabila mereka menyerukan di tempat mereka sendiri yang mana mereka berkumpul bersama kaum mereka, yang sama-sama satu pemikiran dan juga sama-sama gilanya. Tapi kalau suara mereka sudah sampai masuk ke negeri yang saya tempati, bahkan sampai mengusik, rasanya bisa mendidih darah ini.
Memang, inilah yang disebut dengan cinta. Apabila ada orang yang dicintai dihina seperti ini sudah pasti saya akan mati-matian membela orang yang saya cintai. Kalau anda mencintai nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam, maka saya ingin anda juga membela beliau, baik dengan memberikan bantahan kepada kaum feminis dengan pemikiran dan tuduhan-tuduhan mereka.
Jawaban saya atas tuduhan yang mereka lontarkan bahwa nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam adalah seorang poligamis dan seorang pedofilia, adalah bahwasannya tuduhan tersebut tidaklah benar. Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menikah bukanlah atas dasar nafsu beliau semata. Kalau kita kembali kepada shiroh nabi, maka anda akan ketahui bahwasannya rasululloh setelah Khadijah meninggal menikah dengan Saudah radhiyallahu’anha. Saudah adalah bekas budak, hitam, janda dan sudah tua. Dan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menikah dengan wanita-wanita pada saat itu adalah kebanyakan janda. Ada yang ditinggal suaminya meninggal, ada juga yang karena budak, dan ingin dimerdekakan. Ada juga karena ingin mendamaikan dua kabilah yang berperang.
Poligami yang dilakukan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, tidaklah asal menikah seperti yang dilakukan oleh raja-raja pada zaman dahulu. Poligami juga adalah syari’at yang dibawa oleh nabi-nabi dari umat terdahulu, seperti Nashara, Yahudi, dan kaum-kaum sebelum itu, seperti nabi Sulaiman ‘alaihissalam dan Daud ‘alaihissalam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mempunyai dua istri. Mereka semua mengajakan poligami, jadi kalau tuduhan poligami seperti mengatakan “POLIGAMI HARAM”, maka orang-orang feminis tersebut telah menolak syari’at seluruh nabi dari awal sampai akhir.
Kemudian, tuduhan pedofilia. Pedofilia seperti yang kita ketahui adalah perilaku seksual yang menyimpang, yaitu lebih menyukai wanita di bawah umur daripada yang sebaya atau telah dewasa. Para ahli masih berbeda pendapat, terhadap berapa umur yang dianggap sebagai anak-anak di bawah umur, sebab batasan seseorang di bawah umur adalah mereka belum baligh. Bagi wanita ditandai dengan menstruasi atau keluarnya bulu di tempat-tempat yang seharusnya keluar. Kalau rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam adalah seorang pedofilia, maka beliau akan menikah dengan banyak anak kecil, tapi hal itu tidak dilakukan. Beliau menikah dengan Aisyah radhiyallahu’anha adalah karena wahyu semata, bukan atas kehendak beliau sendiri. Dan juga adalah karena ingin mempererat tali silaturahim dengan Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu’anhu. Dan juga Aisyah radhiyallahu’anha adalah salah satu Shahabiyah yang paling mampu untuk mendampingi rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dalam menjelaskan persoalan-persoalan fiqih yang tidak bisa dijelaskan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam sendiri. Dan Aisyah radhiyallahu’anha adalah salah satu shahabiyah yang banyak meriwayatkan hadits karena ingatannya yang luar biasa. Bahkan banyak para shahabat yang berguru kepada beliau radhiyallahu’anha.
Alasan-alasan di atas adalah sebuah catatan khusus bagi mereka yang mengatakan bahwa rasululloh shallallahu’alaihi wa salam adalah seorang pedofilia. Kemudian, tuduhan tersebut dapat di bantahkan lagi, karena Aisyah radhiyallahu’anha adalah istri ketiga beliau, dan setelah itu beliau shallallahu’alaihi wa salam menikah dengan janda-janda. Jadi tidaklah mungkin seseorang yang mempunyai kelainan pedofilia malah menikahi orang-orang yang bukan seumuran dengan anak kecil. Ini makin menguatkan bukti bahwa beliau menikah dengan Aisyah radhiyallahu’anha karena wahyu, bukan karena keinginan hatinya.
Di negara Indonesia sendiri dulu, banyak orang yang menikah muda. Umur masih 14 tahun sudah nikah, apakah itu mengindikasikan negara Indonesia adalah negara pedofilia? Tentu saja tidak. Ada beberapa faktor, hal ini terjadi, yaitu: mungkin karena itu adalah adat istiadat, mungkin karena ada sebab atau faktor tertentu. Faktor ini bisa bermacam-macam, misalnya orang yang miskin, ingin menaikkan derajatnya maka ia menikahkan putri mereka yang masih belia. Atau mungkin karena keinginan orang yang berkuasa kala itu. Dan hal ini sering kita ketahui di Indonesia pada zaman dulu. Kita masih ingat bagaimana zamannya Ibu Kartini, ketika perempuan yang masih belia sudah menjadi istri orang. Apakah ini mengindikasikan Indonesia adalah negara pedofil? Tentu tidak, justru menurutku tuduhan pedofil ini berbalik kepada orang yang menghina.
Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam pernah bersabda bahwa apabila seseorang yang tidak terbukti menuduh seseorang, maka tuduhan itu akan berbalik kepada diri mereka sendiri. Hal ini juga sudah terbukti, banyak juga ternyata orang-orang kaum feminis yang katanya memperjuangkan perempuan, ternyata mereka melegalkan pelacuran, melegalkan lesbian, melegalkan kesetaraan gender. Bahkan beberapa waktu lalu (lupa baca di mana) ada seorang “Lover Boy”, yang ternyata ia sendiri adalah dari kaum feminis. Jadi pedofilia kalau hanya mengatakan, hanya laki-laki saja yang punya penyakit ini, juga tidak benar. Pedofilia itu baik laki-laki ataupun perempuan sama saja. Rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam adalah seorang manusia pilihan, tidak pernah punya penyakit mental seperti itu, dan beliau mustahil menjadi nabi kalau punya penyakit mental seperti itu.
Wallahua’lam bishawab.
Beberapa diskusi yang diusung oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam adalah selalu mencemooh figur orang yang kita junjung, yaitu nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, seorang rasul dan tidak ada orang yang bisa menyamai beliau, sebab Allah telah memilih dari setiap manusia orang yang terbaik untuk membawa syari’at ini. Mustahil apabila seorang rasul mempunyai penyakit jiwa, atau kelainan-kelainan psikologis seperti yang dituduhkan oleh orang-orang orientalis, feminis dan juga orang-orang yang memang sejalan dengan pemikiran mereka.
Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam seperti yang kita tahu, lahir dari suku Quraisy. Saat itu suku Quraisy, sangat terkenal dalam menjaga nasab. Pada zaman dahulu orang-orang yahudi dan orang-orang arab terkenal dalam menjaga nasab mereka. Maka dari itulah, pelacur bagi mereka adalah pekerjaan yang hina. Dan para pezina yang ada pada zaman tersebut, benar-benar dicemooh, dan dikucilkan. Dan pada zaman jahiliyah tersebut apabila seorang wanita melahirkan bayi perempuan, maka niscaya bayi tersebut akan diacuhkan, serasa tidak disayang. Karena bayi laki-laki adalah harapan bagi setiap orang kala itu. (Continue Reading….)
Share on Facebook
Share on Facebook
Recent Comments