Tag: opini
Menurut Pandangan Saya Soal Kasus Bank Century
by Abu Aisyah on Jan.27, 2010, under Aktual, Catatanku
Ini sebuah cerita tentang panggung perpolitikan Indonesia. Di mana orang-orang tertinggi di negara ini sibuk menangani satu persoalan, hingga persoalan yang lain dilupakan. Program 100 hari apalah namanya tidak lagi dilihat. Bahkan hanya gara-gara ingin kekuasaan, sebuah partai yang dulunya berjuang bagus demi tegaknya Islam, sekarang mulai mereguk nikmatnya kursi di pemerintahan. Apa janji-janji mereka? Mana janji-janji mereka ketika kampanye. Sebutlah saja Partai Demokrat, PKS, PAN dan seterusnya sibuk menangani kursi mereka. Tidaklah mereka melihat sebuah gajah di pelupuk mata, melainkan mereka melihat kuman di kejauhan.
Pandangan saya soal kasus Bank Century ini merupakan pendapat pribadi saya. Seandainya saya menjadi Presiden di negara ini, pertama kali yang saya tegakkan adalah keadilan. Yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Kenapa harus diadakan pansus, kalau memang korbannya yang telah kehilangan uang ratusan juta bahkan sampai milyaran dibiarkan? Pertanyaannya adalah seharusnya negara membantu para korban itu dulu, baru kemudian mencari pelaku sebenarnya. Agar para korban itu tidak mati, tidak bunuh diri, sebab rakyatlah yang sekarang ini menderita. Namun sepertinya mereka yang duduk di kursi panas sangatlah tidak memikirkan rakyat kecil.
Uang pajak sebesar 600 T yang didapat, hanyalah digunakan untuk tunjangan Dewan, untuk mobil mewah, untuk mempercantik istana negara, yang mana uang itu harusnya untuk membantu korban dari Bank Century. Kalau sudah ditalangi oleh pemerintah kerugiannya, maka alhasil seluruh nasabah yang dirugikan itu bisa bernafas lega. Entah bagaimana, seharusnya Pak Presiden SBY lebih faham persoalan ini, atau mungkin ada birokrasi tetek bengek yang sebenarnya tak perlu. Bisa saja presiden membentuk tim untuk memberikan uang ganti rugi kepada para korban, agar para korban yang kehilangan ini dapat bernafas lega. Apalagi yang membuat kekacauan ini pertama kali adalah dari lembaga pemerintah sendiri, bukan dari dalam diri bank. Sudah tahu bank mau bangkrut masih dipertahankan. Walhasil, ternyata ada dana-dana mistis yang keluar masuk ke salah seorang sopir taksi dan yang pasti itu adalah praktik money laundry, apalagi kalau bukan untuk partai dan pemilu kemarin?
Dan menurut saya pribadi, seandainya dari awal nasabah-nasabah yang dirugikan itu diganti uangnya yang entah kemana sekarang ini, maka pihak korban akan adem ayem, dan ekonomi mereka dapat maju, dan tentunya pamor SBY bisa naik. Rakyat pun ikut senang, dan tidak perlu ada demo ataupun pelecehan terhadap manusia. Berikutnya baru mengurus siapa dalang dibalik hilangnya uang tirlyunan itu. Dan kalau sudah ketemu tersangkanya, suruh si tersangka ini membayar uang tadi. Kalau tidak mau sita seluruh kekayaannya, kalau tidak cukup ya kerja paksa aja melayani pemerintah selama bertahun-tahun biar kapok.
Yeah, ini cuma pikiranku yang simpel. Sebenarnya juga ini persoalan simpel, hanya saja karena anggota DPR sekarang lebih senang uang, makanya otak mereka pun terkena virus ini. Seandainya saya jadi pemimpin negara ini saya akan bertindak seperti di atas. Rakyat Indonesia sekarang lebih pintar daripada jaman Orba dulu. Tapi itu semua jangan disalahkan pemimpinnya, sebab yang milih orang yang duduk di kursi panas juga anda-anda semua bukan? Selama seluruh rakyatnya sama seperti yang duduk di atas sana, ya seperti itulah pemimpinnya. Kalau saya jadi presiden, mungkin tidak sampai 1 tahun saya bakalan turun lagi, sebab pemikiran saya dengan rakyat kebanyakan berbeda. Ketika saya menerapkan pemikiran Islam, sudah pasti orang-orang yang memakai hukum selain dari Al Qur’an dan As Sunnah bakal protes. Ketika saya bertindak yang benar sesuai Al Qur’an dan As Sunnah saja diprotes oleh mereka, maka sudah tidak mungkin kalau saya bisa menempati posisi RI 1.
Lha wong jaman sekarang ada orang poligami saja ribut, apalagi mau menerapkan sunnah di Indonesia. Coba tengok AA Gym, hanya poligami saja pada ribut. Itu artinya masih banyak manusia yang ada di Indonesia ini nggak faham masalah agama. Alhasil, orang-orang bodoh yang bicara, tapi didengar, sedangkan orang yang memang lebih faham agama dianggap masih ingusan dan tidak tahu apa-apa.
Yeah, jadi teringat dengan “Anda Keblinger”
Media Seperti Musuh Islam
by Abu Aisyah on Aug.19, 2009, under Aktual, Catatanku
Terorisme, Islam dan Media
Terorisme sekarang ini bukan hal baru. Terlebih lagi, ketika pertama kali digembar-gemborkannya oleh George W. Bush. Itulah puncak pertama kali dunia ini dihebohkan dengan yang namanya teroris. Namun anehnya fokus teroris walaupun dengan perkataan “teroris bukan Islam”, tetap saja fokusnya kepada umat Islam. Bagaimana tidak? Ketika tahun 1970-1980-an kita dulu mengenal yang namanya Komando Jihad. Ini juga merupakan isu-isu yang berkembang kala itu, fokusnya sama yaitu umat Islam. Seolah-olah, umat Islam adalah umat yang gemar melakukan teror, apalagi ketika dunia semakin takut terhadap serangkaian serangan-serangan bom.
Kita bisa mengenal, kita bisa mengetahui siapa pelaku bom ini, adalah dari media. Media tak 100% salah, namun media juga bisa membentuk opini disebuah masyarakat. Sebagaimana seorang tukang becak, ketika dia membaca koran, dan di koran tersebut ada informasi yang sangat jelas, maka dia akan mengambil opini. Berbeda ketika seseorang yang memahami fakta yang ada, namun kemudian muncul berita di koran yang bertolak dari fakta yang ia ketahui, maka ia akan menyalahkan media tersebut. Dan sebenarnya, banyak diantara kabar yang ada di media dilebihkan, ataupun dibuat heboh, ya saya tahu itu untuk menarik orang membeli koran, ataupun menonton televisi yang dipenuhi iklan, namun yang menjadi masalah adalah opini yang berkembang di masyarakat dari sesuatu yang ditonjolkan dalam media tersebut.
Isu terorisme sendiri sangatlah aneh, hal ini selalu muncul ketika negara ini akan timbul suatu peristiwa besar, sebut saja sekarang ini pemilu. Atau mungkin ketika akan ada konferensi di Indonesia, atau dalam event-event yang lainnya. Terlebih lagi, tidak lebih yang bisa dikatakan pelaku sendiri adalah orang Islam, dengan ciri-ciri tertentu, bahkan dianggap ia berpemahaman jihad dan sebagainya. Yang lebih aneh lagi, media tidak pernah membeberkan pelaku-pelaku kriminal yang sudah jelas-jelas melakukan tindak kejahatan, seperti kasus Nasrudin dan Antasari Azhar. Selama ini kita tidak pernah tahu siapa sih tokoh penembak itu, siapa sih orang ini? Tapi ketika berita tentang teroris mencuat, maka media seolah-olah sangat detail sekali mengekspos pelaku teroris tersebut. Hal ini tentu saja sangat aneh, apakah media sekarang sudah dibeli? Tidak ada yang tahu.
Saat ini banyak orang yang mengait-ngaitkan teroris ini adalah salah satu kelompok wahabi yang ekstrim. Bahkan hal ini diperkuat oleh mantan kepala BIN yang memberikan opini-nya pada sebuah acara di TV One. Entah karena dia tidak tahu tentang wahabi, ataukah ia ingin memberikan berita yang ngawur, atau ia takut sesuatu, atau memang ia bodoh sehingga mengatakan bahwa wahabi adalah salah satu kelompok radikal di Islam yang sesat. Lalu apakah yang disebut tidak sesat itu seperti liberal, sufi, syi’ah dan sebagainya? Justru ini mengingatkan kita kepada nasehat Allah untuk tidak sembarangan mengambil ilmu dari orang yang tidak tahu ilmu, sebagaimana firman-Nya:
artinya: “Maka bertanyalah kamu kepada orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui”. [Q.S. An Nahl: 43]
Intinya adalah sekarang ini masyarakat lebih berhati-hati terhadap orang yang mempunyai potongan berjenggot, bercelana cingkrang, memakai ghamis, bercadar, menjual obat-obatan herbal seperti madu atau habatus saudah. Bahkan bagi sebagian orang yang awam terhadap hal ini, yang dianggap wahabi adalah mereka yang tidak ikut qunut subuh. Padahal qunut subuh adalah salah satu bentuk khilaf. Intinya adalah opini yang berkembang di masyarakat ini menyebabkan banyak gesekan-gesekan dan tentu saja perpecahan yang terjadi pada sebuah bangsa yang bersatu.
Coba seandainya media tidak terlalu menggembar-gemborkan masalah terorisme, cukup diberitakan seperlunya. Maka yang terjadi adalah masyarakat masih merasa aman, dan tidak timbul gesekan-gesekan yang membuat banyak perbedaan-perbedaan yang seharusnya tidak perlu dibesarkan menjadi semakin besar. Intinya adalah yang terjadi sekarang ini adalah penindasan publik dari sebuah media. Karena itu sangat disayangkan sekali hal ini harus terjadi. Terlebih apabila memang orang-orang yang disebut sebagai “wahabi” tersebut tidaklah berbuat yang macam-macam, menteror orang, atau mengajari teror kepada orang lain. (continue reading…)




