Abu Aisyah Official Web Site

Tag: nasehat

Allah Tempat Meminta Sesuatu

by Abu Aisyah on Oct.31, 2009, under Catatanku

Sering ada pertanyaan datang ke saya, “Pak, apakah Allah akan mengabulkan do’a kita, pak?” atau “Apakah do’a saya akan dikabulkan jika berdo’a begini dan begitu?” atau “Apakah Allah akan mengampuni saya pak kalau bertaubat?”.

Ya, pertanyaan tersebut berulang kali ditanyakan ketika ada seseorang ikhwan yang menanyakannya kepada saya. Saya sebenarnya bukan orang yang tepat untuk menjawab hal ini, tapi paling tidak apa yang saya pelajari bisa berguna untuk menjawab ini. Sebab pertanyaan itu hanya Allah yang bisa menjawabnya, sebab kuasa mengabulkan do’a hanya Allah. Itu semua hak prerogatif Allah.

Ketika kita berdo’a, Allah mengutus malaikat pendengar do’a. Malaikat inilah yang akan selalu mendengar do’a-do’a kita. Baik itu do’a buruk, maupun do’a yang paling baik. Ketika kita sudah selesai berdo’a, maka malaikat ini naik ke langit ke tujuh dan bersujud di bawah ‘Arsy untuk menyampaikan do’a seorang hamba. Setelah Allah mengijinkan malaikat itu menyampaikan do’a seorang hamba, maka Allah akan memutuskan apakah do’a seorang hamba  itu dikabulkan atau tidak. Kemudian Allah memerintahkan malaikat tersebut kembali lagi kepada hamba tadi.

Barangkali pemikiran akal manusia di sini bertanya, “Kenapa Allah mengutus malaikat? Bukannya Allah tahu segala hal? Tanpa malaikat pun Allah pasti mampu mendengar do’a seorang hamba, dan tanpa malaikat pun Allah tahu setiap bisikan hati hamba-Nya?”

Memang benar, bahkan sebelum kita berdo’a apa pun Allah sudah tahu do’a kita. Itu semua ada hikmah yang kita sendiri tidak tahu melainkan sedikit. Hikmah dengan adanya malaikat diutus menggambarkan bahwa Allah itu Maha Besar, ia adalah Raja Diraja, penguasa seluruh alam, yang mengindikasikan bahwasannya makhluk yang mulia seperti malaikat saja tunduk kepada-Nya, pastilah setiap makhluk selainnya juga tunduk. Ketika menjelaskan Allah ada di atas langit ke tujuh, dan bersemayam di atas ‘Arsy pun itu mengindikasikan Allah adalah Maha Tinggi, dan tiada yang lebih tinggi selain-Nya. Di sini juga menjelaskan dengan seluruh KeMaha Sempurnaan Dzat-Nya, Allah adalah penguasa dan penguasa punya hak untuk mengutus hamba-hamba-Nya.

Banyak hamba-hamba Allah yang berdo’a, namun do’anya ditahan untuk dikabulkan, sebab Allah ingin menguji hamba tersebut. Ada juga seorang hamba Allah yang do’anya dikabulkan saat itu juga. Seluruhnya adalah ujian. Hidup ini adalah ujian, manusia diberikan akal untuk berfikir tentang Kemaha Besaran Allah, dan manusia diberikan nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang terbatas. Manusia terbatas sebab manusia hanyalah seorang makhluk yang memerlukan tidur, makan dan minum, yang mana tanpa itu semua manusia tidak bisa hidup, sekalipun pada akhirnya manusia harus kembali ke tanah menemui tempat mereka semula diciptakan.

Ketahuilah bahwasannya Allah akan mengabulkan do’a hamba mereka, baik mereka kafir maupun muslim, selama mereka meminta dengan ikhlas. Seperti manusia yang berada di atas kapal, kemudian diombang-ambing ombak, ia minta kepada Allah dengan ikhlas. Di hatinya tidak setitik pun kesyirikan, namun setelah di daratan ia selamat, ia kembali kufur.

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُون

artinya: “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah),” [Q.S. Al 'Ankabut : 65] (continue reading…)

Leave a Comment :, more...

Terlalu Banyak Khilaf di Jawa

by Abu Aisyah on Oct.27, 2009, under Catatanku

Bismillahirahmaanirrahiim,

Khilafiyah terjadi di setiap tempat, dan setiap pendapat. Banyak orang yang menyikapi khilafiyah ini dengan ghuluw, dan ada yang menyikapi khilafiyah ini dengan terlalu longgar, sedangkan yang benar adalah mereka yang ada di tengah-tengah, tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu longgar. Dalam menyikapi khilaf, maka hendaknya seseorang itu harus melihat dari mana dia mengambil pendapat. Apakah dari orang yang ahli dan faham terhadap pendapat tertentu, ataukah ia hanya berdiri pada pendapatnya sendiri, ataukah ia mengambil dari perkataan orang yang tidak faham terhadap agamanya sendiri.

Seperti yang ada di judul postingan ini, yang terjadi di Jawa benar-benar luar biasa. Aliran-aliran sempalan banyak berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa. Tak bisa dipungkiri, dengan adanya aliran-aliran ini di Jawa otomatis dalam masalah ushul dan fiqih juga terjadi banyak sekali perbedaan. Nah, perbedaan-perbedaan inilah yang akhirnya membawa gesekan-gesekan antara para pemikir di masyarakat, ataupun pada orang-orang awam yang sama sekali tak faham masalah agama ini jadi bicara masalah agama menurut pemikiran mereka yang pas-pasan. Sehingga mereka mudah dikelabui oleh isu, kabar, ataupun orang-orang yang mereka anggap ulama, tapi pada dasarnya mereka adalah ulama yang menyesatkan.

Masyarakat kita yang terdiri dari banyak sekali penganut aliran dan juga kepercayaan terbagi menjadi tiga lapisan. Lapisan pertama, yaitu lapisan orang-orang berilmu, mereka ini adalah orang-orang yang pendapatnya selalu di dengar, pendapat mereka dijadikan rujukan, golongan ini dihuni oleh para ustadz, oleh orang-orang yang dianggap cendekiawan, dan lapisan kedua adalah para penuntut ilmu. Mereka ini adalah orang-orang yang belajar langsung atau tidak langsung kepada orang-orang lapisan pertama. Biasanya gesekan besar itu terjadi pada tingkat ini, namun gesekan yang terjadi pada tingkat ini adalah gesekan ilmu, yaitu gesekan pendapat. Dan yang lapisan ketiga adalah kelompok taqlid. Mereka yang taqlid ini biasanya memilih apa yang mereka anggap pas dengan akal mereka. Kelompok yang ketiga inilah yang mengakibatkan perbedaan semakin tajam dan memperkeruh suasana, disebabkan mereka tidak faham terhadap apa yang mereka dengar, mereka lebih memilih apa yang mereka anggap untung. (continue reading…)

Leave a Comment : more...

Apakah Perjuangan Mereka Sia-sia?

by Abu Aisyah on Oct.15, 2009, under Catatanku

Beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa gembong teroris tertangkap. Media ramai membicarakannya, bahkan dari tukang becak sampai orang berdasi pun membicarakannya. Ada kalangan yang gembira, ada kalangan yang menyayangkan kejadian ini. Ya, Noordin M Top telah tewas di tangan Densus 88. Demikian juga dengan salah seorang ustadz yang disebut-sebut sebagai perekrut orang-orang yang melakukan bom bunuh diri itu, seperti Zainuddin Zuchry alias Zainuddin Jaelani. Dan ia tertembak bersama saudaranya Ahmad Syahrir di sebuah kos-kosan mahasiswa beberapa waktu lalu. Dan ada yang unik dari para pelaku, dari mulai Ibrohim, sampai Zainuddin Zuchry, mereka adalah keluarga.

Saya sudah pernah membahas tentang bagaimana khawarij, di blog ini beberapa waktu yang lalu, bahwa tindakan mereka tidak dapat dibenarkan. Baik secara syar’i, maupun secara akal. Apalagi yang lebih menyedihkan mereka melakukan ini atas dasar Islam, dan cita-cita yang tinggi yaitu mati syahid. Kita sebagai umat Islam pasti terbesit dalam diri kita untuk cita-cita ini, yaitu mati syahid. Namun perlu diingat juga bahwa rasululloh shallallahu’alaihi wa salam bersabda bahwasannya mati syahid itu bukan hanya berjihad fii sabilillah, karena kalau hanya dalam jihad fii sabilillah saja, maka hanya beberapa golongan saja yang dapat. Makanya itu rasululloh shallallahu’alaihi wa salam bersabda bahwa orang yang tenggelam, ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya, orang yang meninggal karena kecelakaan, orang yang sakit mereka adalah orang-orang yang mati syahid. (continue reading…)

1 Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!