Tag: cicak vs buaya
Next Round Episode Cicak vs Buaya
by Abu Aisyah on Nov.11, 2009, under Aktual, Catatanku
Analisa Dari Orang Pinggiran Terhadap Kasus KPK
Kasus KPK dan POLRI kini semakin menjadi lebih seru lagi setelah Wiliardi Wizard bersaksi bahwa ia disuruh oleh petinggi POLRI untuk menghabisi Antasari. Target utama adalah untuk melumpuhkan KPK terutama orang yang menjadi pimpinan KPK yaitu Antasari. Berita selengkapnya silakan ikuti kesaksian Wiliardi Wizard di sini dan di sini.
Kasus yang melariskan koran-koran bak kacang goreng ini membuat sedih sebagian besar rakyat Indonesia. Di mana hukum sudah tidak dihargai, di mana kekuatan kebenaran hanyalah dinilai dengan uang. Setelah kasus suap di anggota DPR, skandal Antasari, kini muncul kasus dugaan suap oleh KPK, lalu muncul Anggodo, yang terakhir WW bilang bahwa dia disuruh oleh petinggi POLRI. Semakin seru dan semakin ruwet.
Aku punya pandangan lain ya, sebut saja kita sedikit bermain hipotesa. Hipotesaku adalah Antasari memang punya hubungan dengan Nasrudin, terutama dengan Rani. Kemungkinan si Rani ini memang ada sebuah skandal yang seharusnya tidak sampai diungkap ke publik. Namun ternyata skandal ini diendus oleh Mr. X. Mr. X inilah yang akhirnya menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk memfitnah Antasari.
Mungkin ketika itu ketua KPK sedang menyelidiki sebuah kasus yang bisa membuat negeri ini goncang. Kalau dilihat ada pihak-pihak yang berkepentingan di dalam hal ini yang membuat mereka semua tutup mulut soal ini. Sebagaimana kesaksian WW barusan, bahwa ada campur tangan Polri dalam masalah ini. Ketika Mr X ini akan menghentikan langkah KPK untuk menyelidikinya, mungkin ia meminta bantuan orang yang bisa membuat sebuah skenario ini. Siapa lagi kalau bukan dari pihak kepolisian? Pihak kepolisianlah yang bisa membuat sebuah kasus mencuat, dan bisa membuat sebuah kasus tenggelam.
Karena itu, kepolisian kalau hanya orang berpangkat menengah tentu tidaklah bisa. Orang yang bisa menjalankan skenario konspirasi ini harus orang yang tidak tersentuh. Paling tidak orang yang berada di pucuk pimpinan Polri yang bisa membuat kasus ataupun menutup kasus. Karena itulah orang tersebut mau dan bisa menyuruh orang sekelas WW. Ada dua kondisi, yaitu WW tahu skenarionya atau WW tidak tahu skenarionya. Tapi dari apa yang telah terjadi sudah bisa dipastikan WW tahu skenarionya.
Intinya, si Antasari adalah orang yang berada di tempat dan di waktu yang tidak tepat. Ia dijebak lantaran wanita. Ada pelajaran yang bisa kita ambil di sini, wanita bisa membuat kita terjebak dalam sebuah keruwetan dari keruwetan yang sudah ada. Kalau WW sudah bersaksi bahwa ia mendapatkan tekanan. Maka konspirasi yang ada hingga menewaskan seorang bernama Nasrudin ini benar-benar konspirasi yang orang-orang bawah tidak bisa menggapainya. Apakah ada hubungannya dengan orang yang paling penting di negara ini? Sepertinya aku makin tidak suka arah investigasi ini kemana. Sebenarnya ada premis-premis yang ingin aku utarakan tapi, aku tak mau gegabah menyimpulkannya. Otak dari kasus ini, adalah pada salah satu orang yang akan diselidiki oleh Antasari ketika ia menjabat ketua KPK. Kalau dirunut benangnya maka sambungan pertama adalah BANK Indonesia, Kejaksaan dan Pemilu. Ketiga poin inilah yang sebenarnya terakhir kali diusut oleh KPK. Mungkin KPK saat itu menemui sebuah kasus yang melibatkan orang-orang yang ada di Bank Indonesia, kemudian berhubungan dengan orang-orang yang ada di Kejaksaan serta berhubungan dengan pemilu yang ketika itu terjadi. Menurutku Mr X ini berusaha agar kasus itu hanya terhenti di KPK dengan mengganjal pendekar anti korupsi ini. Sehingga tidak mengobok-obok kepentingannya yang saat itu kuat di lembaga-lembaga tinggi negara.
Wallahu a’lam.
Hidup itu Seperti Antrian Tiket, Pertunjukan Theater Drama, dan Kebun Binatang
by Abu Aisyah on Nov.07, 2009, under Aktual, Catatanku
Ya, itulah yang terjadi di hidup ini. Manusia mengantri tiket untuk masuk ke pertunjukan Theater ataupun ke kebun binatang. Mereka rela menghabiskan uang mereka untuk mendapatkan tiket tersebut. Setelah tiket didapat dengan uang, mereka pun menikmati pertunjukan manusia-manusia lain di atas panggung. Atau mereka melihat-lihat binatang di kebun binatang. Melihat polah tingkah monyet, jerapah, burung-burung, hewan melata, dan sebagainya.
Inilah kehidupan. Kita setiap hari bekerja, membanting tulang, menghabiskan waktu di atas meja kerja, kemudian pulang ke rumah menghibur diri dengan pertunjukkan orang-orang di layar kaca, ataupun membaca koran yang isinya juga pertunjukkan. Dan terkadang sebagian diri kita mencontoh sifat-sifat mereka yang ada di Theater, ataupun meniru beberapa perilaku binatang di kebun binatang.
Di panggung drama, mungkin kita bisa meniru orang-orang yang baik. Menghadapi kesabaran dalam setiap adegan, bersungguh-sungguh dalam menangis, mempelajari setiap akting, setiap polah tingkah, atau malah kita terkesima dengan peran antagonis yang beringas, kejam, licik, atau mungkin kita lebih suka dengan orang biasa, peran pembantu, atau peran pengganti. Semuanya adalah kehidupan dunia yang rumit, tertata, dan sempurna. Tidak ada yang bisa menciptakan kehidupan seperti ini bagi makhluk seukuran manusia, atau bahkan lebih kecil, atau dia lebih besar dari manusia. Tiada satupun makhluk yang bisa menciptakan sebuah kehidupan lain. Setiap makhluk punya tugas masing-masing. Mereka adalah aktor, antagonis, protagonis, ataupun peran pembantu. (continue reading…)




