Terlalu Over Presure
by Abu Aisyah on Jan.27, 2010, under Catatanku
Beberapa hari ini aku terlalu lelah dalam bekerja. Terlebih lagi itu aku rasakan karena badanku mulai sering capek dan mata sering lelah ketika menatap monitor komputer. Mungkin juga karena aku kurang berlibur. Aku kepingin sih sebenarnya berlibur ke mana gitu, untuk menghilangkan penat sesaat bersama Aisyah, Hana’ dan Umminya. Hari ini aku habiskan waktuku untuk belajar YQL dan python, di rumah nanti juga paling aku akan habiskan malamku bergelut dengan “si ular” tersebut.
Yang aku butuhkan mungkin adalah liburan yang panjang dengan ditemani es kelapa muda di antara hembusan semilir angin pantai, tak lupa suara deburan ombak memecah karang bisa membuatku berpikir aku sudah tidak di bumi lagi. Mungkin karena memang di kantor sekarang ini sedang lagi sibuk-sibuknya terlebih lagi terjadi beberapa perombakan di dalam susunan manajemen. Aku bersyukur juga tidak down dengan kondisi yang terus-menerus bekerja ini, walaupun di rumah zaujah sempat protes koq selalu pulang lebih dari maghrib. Sebenarnya aku itu lebih suka belajar. Karena di rumah tidak ada internet makanya aku lebih banyak belajar di kantor yang internetnya gratis. Dan itu juga aku sambi nyari-nyari proyekan. Entah ini awal tahun koq proyekannya sepi, mungkin imbas dari long weekend antara Natal dan Tahun Baru kemarin.
Tapi nevermind-lah, sekarang bisnisku mulai bangkit lagi, setelah dirasa kemarin dari jualan telur asin tidak begitu baik, maka aku mencoba memulai bisnis untuk berdagang sembako. Ternyata banyak yang beli, tapi ada kesulitan dalam masalah stok. Sampai sekarang aku belum tahu di mana cari stok yang lebih murah untuk beras, gula pasir, telur dan lain-lain. Satu-satunya yang membuatku tertolong kemarin adalah kiriman dari Kediri yaitu beras satu sak. Alhamdulillah bisa dijual dan juga mie instan.
Harga kebutuhan bahan pokok naik, demikian juga dengan yang lainnya, pajak, pungutan dan sumbangan pun naik, tapi ini tidak diimbangi dengan gaji yang naik pula
. Ini persoalan klasik, semoga juga nanti tekanan darahku nggak ikutan naik setelah beberapa waktu lalu sempat sampai 140.
Aisyah dan Hana’ besok hari Jum’at bermain di Play Ground dengan teman-teman PAUD Cendekia, Desa Bunulrejo. Semoga aku bisa rileks sebentar setelah mengantar mereka lalu ke kantor. Aku masih butuh istirahat dari sekedar libur hari Sabtu dan Minggu. Long Vacation-lah pokoknya. Yaa Allah, semoga aku masih bisa kuat untuk menghadapi hari-hari yang Engkau sediakan untukku esok hari. Insya Allah.
![]()
Waspada Skimmer
by Abu Aisyah on Jan.21, 2010, under Catatanku
Apa itu Skimmer? Makanan apa pula itu? Ini adalah modus kejahatan gaya baru untuk mencuri PIN di mesin ATM. Kasus ini mulai besar setelah berbagai media memberikan informasi mengenai beberapa orang nasabah yang uangnya tiba-tiba raib padahal mereka tidak pernah melakukan transaksi penarikan uang sebelumnya. Dan menurut informasi, terjadinya hanya di Bali dan total ada 5 BANK yang dibobol.
Dunia semakin modern dan kejahatan pun semakin canggih. Tidak bisa memakai cara merampok dengan menodongkan senjata, karena resiko ketangkap bisa digebukin massa, maka para penjahat memakai modus merampok dengan cara halus. Akibatnya ratusan uang nasabah lenyap secara misterius. Untuk menghindari Skimmer, baca artikel di link ini.
Satu hal yang harus dicatat, bahwa para pelaku tidak pandang bulu untuk menggasak isi tabungan seseorang. Jadi jangan remehkan bahwa di dalam rekening anda tidak ada uangnya ataupun uangnya cuma sedikit. Sebab sekali mereka dapat PIN anda, maka sewaktu-waktu mereka bisa mengambil uang anda, tanpa anda sadari sebelumnya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan kalau anda benar-benar ingin aman.
1. Baca artikel yang saya berikan linknya tentang praktek skimmer baik-baik untuk waspada.
2. Ganti PIN secara berkala.
3. Kalau bisa anda mengambil uang ketika belanja di supermarket-supermarket yang menyediakan fasilitas membayar sekaligus mengambil uang. Sebagai contoh di salah satu bank swasta di negeri ini memberikan fasilitas tersebut.
4. Jangan pernah mengambil uang di tempat ATM yang tidak ada kameranya. Sebab bisa jadi yang tidak terpantau kamera itu merupakan ATM yang rawan kejahatan.
Well, that’s all folks
Tradisi Otomatis Dapat Shaf Depan Tanpa Diminta
by Abu Aisyah on Nov.06, 2009, under Aktual, Catatanku
Negara Indonesia adalah negara yang paling lama dijajah oleh negara asing. Selama lebih dari 350 tahun dijajah, sehingga tradisi para bangsawan, menghormati kaum bangsawan masih terasa kental bahkan sampai sekarang. Bedanya sekarang orang yang berpangkat atau yang mempunyai kedudukan lebih dianggap orang yang terhormat, bahkan sampai-sampai bagi sebagian orang menganggap orang yang seperti itu masuk surga lebih dulu. Padahal orang yang masuk surga lebih dulu adalah orang yang tidak dilihat dari pangkat, harta, jabatan ataupun keturunan. Orang yang masuk surga lebih dulu adalah orang yang paling bertaqwa, yaitu dari kalangan nabi, kemudian orang-orang sholih, lalu orang-orang yang berada di pertengahan, yang terakhir adalah orang-orang yang amalnya sekecil dzarrah.
Yang sering kita lihat ketika sholat di sebuah masjid adalah, misalnya ada presiden, menteri, bupati atau walikota yang sholat di sana. Mereka pasti otomatis dapat shaf depan. Bahkan ta’mir masjid pun terkadang-kadang mewanti-wanti untuk menyisakan tempat di shaf depan. Padahal belum tentu mereka adalah orang-orang yang pantas berada di shaf depan, apalagi terkadang sholat ditunda-tunda sampai mereka datang, padahal saat itu di jama’ah sudah ada imam.
Sikap seperti ini sebenarnya tidak benar. Dari segi akal, dan dari segi syari’at sikap ini tidak bisa diterima. Entah dari mana hal ini seakan-akan telah mendarah daging di hati manusia-manusia jaman sekarang. Saya masih ingat ketika di kampus dulu, ketika ada tamu dari Angkatan Laut, seorang Jendral, sholat Jum’at saja pakai diatur agar tidak ada yang menempati shaf depan. Saya tidak setuju, tentu saja.
Syari’at itu telah jelas, bahwa shaf yang kosong akan dimasuki oleh syetan. Dan tuntunan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam adalah merapatkan dan meluruskan shaf. Hal ini tidaklah saya lihat pada jaman sekarang ini. Mereka merenggangkan shaf, mereka melapang-lapangkan shaf, kaki tidak bersentuhan, bahu tidak bersentuhan, bahkan ketika disentuh menghindar. Apabila seseorang makmum terlambat, ya mereka harus menjadi makmum masbuk. Apakah ketika seorang presiden terlambat misalnya, ia harus menyuruh seluruh orang yang sholat menyingkir atau yang lebih konyol mengulang lagi sholatnya? Tentu tidak.
Di zaman rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, Abu Bakar radhiyallahu’anhu pernah terlambat shalat. Namun beliau tidak diistimewakan oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan juga para shahabat lain. Terlambat ya terlambat, tempatnya di belakang. Dan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tidak mengistimewakan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Jaman sekarang ini tidak demikian, masyarakat ketika ada orang-orang yang dianggap lebih tinggi, mereka mengakhir-akhirkan sholat agar orang terhormat tersebut menempati shaf paling depan. Ya, seolah-olah orang-orang tersebut masuk surga pertama kali. Seolah-olah surga telah dibooking oleh mereka.
Kita adalah sama dalam menghadap Allah. Tidak ada yang diistimewakan. Allah melihat kita semuanya adalah sama. Apapun kedudukan kita, jabatan kita, harta kita, sesungguhnya tidak ada artinya dihadapan Allah. Allah tidaklah melihat itu semua, tapi Allah melihat iman dan taqwa kita. Jadi percuma saja kalau mengontrak shaf depan tapi hatinya masih thoghut, hatinya masih kotor, dan imannya masih sering goyah. Memang shaf pertama itu ada keutamaan, tapi dengan membooking shaf depan itu tidak ada contohnya dari para shahabat ataupun dari para salafush sholeh. Anda tak percaya? Kita lihat saja bagaimana yang terjadi di masyarkaat! Ini realita, dan banyak terjadi. Tradisi feodal ternyata masih mengakar di Indonesia.




