Uncategorized
Tahun Baru, Perubahan yang Bagaimana?
by Abu Aisyah on Jan.07, 2010, under Uncategorized
Kita telah berada di tahun 2010. Dan telah 1 minggu melewatinya. Mungkin ini adalah salah satu catatan yang kelewat, harusnya aku tulis tanggal sebelum tahun baru. Tapi nggak apa-apalah, untuk mengawali catatan perdana di awal tahun ini. Astaga 1 bulan nggak ngeblog!!! ![]()
Alhamdulillah, Allah masih memberikanku nafas untuk bisa menulis, untuk belajar, untuk bekerja dan juga untuk melihat masa depan. Tahun ini banyak agenda yang aku rencanakan. Mulai dari ingin membuka usaha kecil-kecilan, juga ingin belajar sedikit banyak tentang ilmu-ilmu coding yang belum aku kuasai, juga ingin konsentrasi juga di perkuliahan. Aku nggak mau nantinya mengecewakan ummi yang sekarang ini sudah berusaha mati-matian untuk membiayai kuliahku dulu, karena sekarang aku sudah bisa usaha sendiri, paling tidak aku akan buktikan bahwa aku bisa.
Lepas dari curhat, ada sesuatu yang membuatku dari tiap tahun merasa gerah dan tidak suka. Yaitu ucapan “Happy New Year” dan sebagainya. Beberapa kawan dan juga email-email penuh dengan ucapan Selamat Tahun Baru. Rasanya diriku adalah satu-satunya orang yang tidak pernah merasa enak atau apa ya….nyaman dengan ucapan itu. Tidak, justru aku benar-benar tidak suka. Baik dengan ucapannya, perayaannya, dan juga pesta-pesta penyambutannya. Salah satunya yang membuatku mengerutkan dahi adalah bagaimana orang-orang menghambur-hamburkan uang jutaan rupiah ataupun dollar ataupun mata uang lainnya, hanya untuk malam itu.
Mubazir
Ya, benar. Mubazir. Yaitu sia-sia. Terus terang malam tahun baru kemarin aku terganggu dari tidur. Suara petasan jam 12 malam membangunkanku, anak-anakku jadi tidak bisa tidur. Sebenarnya ingin aku do’akan kejelekan bagi mereka, tapi sepertinya itu tak akan merubah semuanya, jadinya aku berdo’a semoga tahun depan tidak terjadi hal seperti itu lagi. Terus terang sangat-sangat tidak nyaman dengan kegaduhan di mana saat itu orang-orang beristirahat.
Mungkin saja anda merayakannya, tapi ingat, ada orang-orang yang juga tidak merayakannya. Kenapa tidak dihormati orang-orang yang beristirahat, setelah seharian capek kerja, capek beraktivitas, bahkan mungkin saja jam segitu ada orang yang sedang ibadah, tapi diganggu dengan suara terompet, suara gaduh dan juga suara-suara petasan yang rasanya tidak cocok kalau didengar oleh bayi-bayi yang sedang tidur. Ingat yang tidur bukan hanya orang dewasa, atau orang penyabar, tapi juga ada anak-anak kecil, yang mungkin masih bayi, apakah tidak kasihan mereka? (continue reading…)
Rahasia Kurma
by Abu Aisyah on Jun.03, 2009, under Uncategorized
Kurma adalah buah yang berkah, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memakannya ketika mulai berbuka dari puasa Ramadhan.
Dari Salman ibn ‘Aamir, Sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada maka dengan air karena air itu bersih dan suci. (HT. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Anas, sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ; berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma mengkel segar yang baru dipetik dari pohonnya-pent) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan beberapa kurma matang, kalau tidak ada, maka dengan meneguk beberapa tegukan air putih. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Tidak diragukan lagi bahwa dibalik sunnah nabi ini ada petunjuk medis dan manfaat yang banyak bagi kesehatan, dan hukum yang bagus. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah memilih makanan ini dan tidak memilih yang lainnya karena adanya manfaat yang sangat besar, tidak hanya karena buah itu banyak dijumpai di lingkungannya semata. Maka, ketika seorang yang berpuasa mulai berbuka maka organ-organ tubuhnya akan bersiap; dan organ pencernaan mulai berakivitas kembali, khususnya lambung yang butuh untuk diberikan sesuatu yang lembut, dan memulai mengakifkan kerjanya kembali dengan halus. Dan orang yang sedang berpuasa, pada keadaan ini, sangat butuh akan makanan yang mengandung gula yang mudah dicerna, yang bisa menghilangkan rasa lapar, persis seperti ia butuh akan air.
Dan nutrisi makanan yang tercepat bisa dicerna dan sampai ke darah adalah zat gula, khususnya makanan yang mengandung satu atau dua zat gula (glukosa atau sukrosa). Sebab tubuh mampu menyerap dengan mudah dan cepat zat gula itu hanya dalam beberapa menit. Apalagi jika lambung dan perut sedang kosong, seperti orang yang berpuasa ini.
Andai anda mencari makanan yang bisa menyamai dua kandungan yang dituju ini secara bersama (menghilangkan lapar dan dahaga secara bersamaan dengan satu makanan), maka anda tidak akan pernah menemukan makanan itu lebih baik daripada apa yang disuguhkan oleh sunnah nabawiyah, dimana sunnah memotivasi orang yang berpuasa untuk membuka puasanya dengan zat gula manis sekaligus kaya akan air (ruthab) atau pun tamar (kurma matang).
Berdasarkan penelitian bio-kimia, ditemukan bahwa satu bagian kurma yang kita makan sama dengan 86 – 87 % beratnya; mengandung 20 – 24 % air; 70 – 75 % gula; 2 – 3 % protein; 8,5% serat; sangat kecil sekali kandungan lemah jenuh (lecithine).
Berdasarkan penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa ruthab (kurma mengkel) mengandung 65 – 70 % air berdasarkan berat bersihnya; 24 – 58 % zat gula; 1,2 – 2 % protein; 2,5 % serat, dan sedikit sekali mengandung lemak jenuh (lecithine).
Berdasarkan penelitian kimiawi dan fisiologi yang dilakukan Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, diperoleh data sebagai berikut:
-
Mengkonsumsi ruthab (kurma mengkel, masih segar, matang dipohon) atau tamar (kurma matang kering seperti yang tersebar di Indonesia -pent) setiap kali mengawali buka akan menambah terhadap badan persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit anemia (kurang darah), sehingga tubuh lebih menjadi bergairah;
-
Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula ini secara cepat dan maksimal;
-
Sesungguhnya kandungan ruthab dan tamar akan zat gula dalam bentuk kimia sederhana menjadikan proses mencerna dan menyerap di lambung sangat mudah, sebab 2/3 (dua per tiga) zat gula ada dalam tamar dan dalam bentuk zat kimia sederhana. Hal ini pun bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat;
-
Sesungguhnya adanya tamar yang mengandung air, dan ruthab yang mengandung air tinggi (65 - 70 %) akan menambahkan terhadap tubuh persentase yang tidak membahayakan, maka dengan itu seorang yang berpuasa tidak harus meminum air dalam jumlah banyak ketika berbuka. (Abm)
Dr. Hissaan Syamsi Basya
Tutorial Bersosialisasi
by Abu Aisyah on Apr.08, 2009, under Catatanku, Fiqih Muamalah, Uncategorized
Bismillah, washolatu ‘ala rosulillah wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in, sebelum nulis ini sebenarnya juga agak ragu apakah aku bisa juga melakukan apa yang akan aku tulis. Tapi yang namanya kebenaran, tidaklah boleh ditutupi ataupun tidak disampaikan. Karena menyimpan ilmu itu hukumnya harom. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikanlah walau satu ayat”.
Dalam bergaul, kita juga terkadang sering salah dalam pergaulan, namun tidak sadar. Ada banyak sebab, diantaranya adalah karena lingkungan, yang kedua karena teman, yang ketiga karena keluarga. Namun faktor yang paling mempengaruhi pergaulan itu adalah dari lingkungan dan teman. Karena faktor keluarga itu sangat kecil pengaruhnya, sebab manusia itu lebih banyak berinteraksi dengan dunia luar daripada dengan keluarganya sendiri ketika mereka sudah beranjak remaja. Coba hitung sendiri waktu anda di luar rumah. Mungkin dalam waktu 6 jam anda berada di sekolah, atau mungkin 8 jam di kantor, kemudian mungkin anda main ke rumah teman, atau sekedar ke tetangga sekitar 1-2 jam atau mungkin lebih, kemudian anda berinteraksi dengan orang-orang di rumah, entah itu makan siang atau makan malam, paling-paling sekitar 2-4 jam, atau mungkin anda menghabiskan di rumah untuk nonton tv atau mungkin main game (bagi yang punya), kemudian anda tidur kurang lebih selama 4-8 jam. Dari sini sudah bisa dipastikan pengaruh keluarga itu sangat sedikit, karena interaksi dengan keluarga anda lebih sedikit daripada interaksi dengan dunia luar, maka dari itulah kesimpulan ini saya buat. (continue reading…)
Cara Membangun Rumah yang Benar bag 3
by Abu Aisyah on Mar.04, 2009, under Catatanku, Uncategorized
Memahami bahwa Allah adalah Satu-satunya Tempat Kembali
Seorang muslim haruslah memikirkan tentang kemana dia akan kembali. Itulah makna dari syahadat yang pertama. Dengan mengakui bahwa Allah adalah Ilaah, maka orang tersebut menyerahkan sepenuhnya hidupnya kepada Allah. Dengan mengimani perjumpaan dengan Al Khaliq, sehingga apapun yang ia lakukan ia akan terus ingat kepada-Nya. Maka dari itu, ketika seseorang yang beriman kepada Allah terjerumus ke dalam kemaksiatan hatinya tertutup dari mengingat Al Khaliq. Syaithon telah menutupi hatinya, sehingga orang yang hatinya tertutup akan lupa terhadap Al Khaliq. Syaithon berusaha untuk menggoda manusia, maka tak jarang pula orang yang alim, ataupun ustadz-pun terkena godaan. Dan syaithon akan menang ketika yang digoda berbuat syirik, sebab perbuatan syirik tidak diampuni oleh Allah.
” من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ” أخرجاه
“Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. (HR. Bukhori & Muslim)
Hadits tersebut berbicara tentang keutamaan tauhid dan dosa yang diampuni olehnya. Dengan beriman dengan sebenar-benarnya, maka Allah pasti akan mengampuni orang tersebut, sekalipun dosanya seberat bumi.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah bersabda :
” فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله “
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkanلا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
” قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله ” (رواه ابن حبان والحاكم وصححه).
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Allah berfirman :”Ucapkan hai Musaلا إله إلا الله ”, Musa berkata : “Ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimatلا إله إلا الله diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimatلا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Imam Hakim sekaligus menshohehkannya).
Cara Membangun Rumah yang Benar bagian 2
by Abu Aisyah on Feb.21, 2009, under Aktual, Catatanku, Uncategorized
A. Membangun Pondasi-Pondasi
Di dalam agama ini apakah yang paling utama? Tentu saja iman. Sebab iman inilah yang menjadi bekal nantinya sebuah bangunan bisa berdiri tegak. Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang mana Allah telah menjadikan umat ini lebih baik daripada umat-umat sebelumnya, maka harus difahami bahwa iman itu mempunyai rukun-rukun, dan rukun itu tidaklah berkurang dan bertambah. Rukun-rukun itu tidak bisa tidak untuk dita’ati, dan barangsiapa yang melanggar salah satu rukun saja, maka imannya dianggap batal alias murtad.
Rukun Iman yaitu, Iman Kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab, Iman kepada Rasul, Iman kepada Hari Akhir, Iman Kepada Taqdir. Dan poros inti dari setiap iman itu adalah Iman Kepada Allah. Iman kepada Allah inilah disebut sebagai tauhid. Islam adalah agama tauhid. Dan setiap ibadah tanpa di dasari oleh tauhid maka ibadah itu rusak dan tidak diterima oleh Allah Azza Wa Jalla.
Ad Diin, sebenarnya mengatur seluruh kehidupan manusia, mulai dari manusia itu lahir sampai mati, mulai dari manusia itu bangun dari tidur sampai tidur lagi. Tidakkah anda semua melihat bahwasannya kita sebagai manusia terlahir di dunia ini adalah karena Ad Diin itu sendiri. Ya, Allah telah menjadi pengatur, karena ialah Maha Pengatur. Segala urusan kita, baik kita sadari atau tidak segalanya telah diatur oleh Allah. Karena Allah yang menjadi pengatur, maka sudah sepantasnya kita tunduk kepada-Nya. Allah juga adalah Al Kholiq, pencipta. Yang mana setiap ciptaan-Nya tiadalah yang sia-sia. Segalanya punya hikmah, punya fungsi, punya andil dalam mengisi kehidupan. Sebagaimana Allah menciptakan surga dan neraka, Allah menciptakan waktu, Allah menciptakan jin dan manusia, Allah menciptakan setiap hal yang bisa dilihat dan tidak bisa dilihat. Segalanya punya hikmah. Bahkan hikmah-hikmah itu ada yang diketahui ada yang tidak.
Sebegitu Maha Besarnya Allah, apakah kita akan berpaling dari sang Pencipta? Kita tanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah berterima kasih kepada yang telah memberikan nyawa kepada kita, yang telah memberikan kita hidup dan kita bisa makan di bumi-Nya, di bawah langit-Nya. Apakah kita benar-benar sudah berterima kasih, bersyukur terhadap-Nya yang telah memberikan kaki dan tangan agar kita bisa melangkah dan meraih apapun yang ada di sekitar kita? Kita juga apakah sudah bersyukur terhadap penglihatan yang mana tanpa penglihatan itu kita akan menderita seumur hidup? Apakah kita juga sudah bersyukur terhadap waktu yang diberikan kepada kita untuk mengingat-Nya? (continue reading…)
Menjelang Perpisahan dengan Sang Kekasih
by Abu Aisyah on Sep.23, 2008, under Catatanku, Uncategorized
Bismillahirahmaanirrahiim.
Kita ada di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebentar lagi bulan yang mulia ini mulai meninggalkan kita. Kekasih kita yang datang setahun sekali ini akan meninggalkan kita. Namun apa yang bisa kita dapatkan di bulan ini? Dan kita bisa melihat kemajuan yang sangat pesat di masjid-masjid yang ada di kampung, kota-kota dan desa-desa.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” [Q.S Al Baqarah: 183]
Sudahkah kita menjadi orang yang bertaqwa selepas bulan ini? Coba kita lihat lagi ketika di awal bulan ini, orang-orang bersemangat, namun kenapa di akhir-akhirnya hanya sedikit orang yang masih bersemangat? Jawabannya sangat mudah. Setiap manusia tidak memprioritaskan bulan ini. Allah adalah nomor dua bagi mereka. Padahal Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Q.S Adz Dzariyaat: 56 ]
Prioritas utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Beribadah artinya mengabdi, menjadi hamba. Secara kasar menjadi budak Allah. Ibadah artinya melakukan apa-apa yang gunanya untuk mendekatkan diri kepada Allah yang diajarkan oleh lisan-lisan para nabi. Di dalam hal ini apa yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Sebab beliaulah yang diberikan amanah oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa untuk mengajarkan kepada seluruh umat manusia syari’at Islam.
Saudaraku sesama muslim yang aku muliakan. Sesungguhnya kita ini adalah manusia biasa. Kita bukanlah malaikat. Kita sering berbuat nista, kita sering berbuat salah, berbuat kemungkaran, berbuat maksiat, meremehkan ibadah, meremehkan Allah, tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Kita ini adalah hamba yang dho’if. Hamba yang kurang segala-galanya. Kita adalah Al Faqir. Bahkan mungkin di dalam diri kita tersimpan perasaan nifaq (kemunafikan) yang tanpa kita sadari. Atau bahkan setiap ibadah yang kita lakukan justru mengarah kepada kesyirikan.
Apalah guna mengejar dunia sampai lupa diri, sedangkan nanti di akhirat kita tak mendapatkan surga secuil pun? Apalah guna mengejar gelar Sarjana, Profesor, Doktor, Alim Ulama, tapi kita tidak mendapatkan gelar Al Muttaqin? Apalah guna kita mengejar hidup abadi, namun kita tak bisa menghindar dari adzab Allah? Mari kita renungkan sejenak, langkah demi langkah yang kita lalui.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
artinya: “Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [ Q.S Al Ashr]
Kali ini saya mengajak anda untuk menghisab diri. Melihat di dalam diri sendiri. Berapakah dosa-dosa yang ada di hati. Cobalah direnungi di saat kita bangun tidur, apakah yang pertama kali kita lakukan? Bersyukur atau tidak? Padahal tidur adalah sebuah nikmat. Coba kita renungi lagi ketika kita hendak tidur, apakah kita pernah bersyukur atas apa yang terjadi hari ini?
Ketika kita berdiri menghadap-Nya, melantunkan do’a-do’a dan ayat-ayat Allah. Apakah kita benar-benar merasa bahwa Allah-lah yang ada di hadapan kita? Ataukah hanya kekosongan semata? Pernahkah kita berpikir bahwa “saya sholat untuk Allah, karena Allah ada dihadapanku, sekalipun aku tidak bisa melihat Allah, tapi Allah bisa melihatku”. Pernahkah perasaan ihsan ini ada di dalam diri kita? Kalau dalam 1 bulan shalat di bulan ini kita sama sekali tak bisa menghadirkan Allah dalam shalat kita, maka apakah kita akan yakin bahwa sholat kita diterima oleh-Nya?
Sejenak kita lihat sikap kita terhadap saudara kita sesama muslim. Sudahkah kita meminta ma’af atas apa yang kita lakukan? Sudahkah kita meminta ma’af karena mungkin ada kesalahan kita yang menyakiti hatinya?
Coba kita lihat kaum dhuafa yang bekerja memunguti sampah setiap hari, lihatlah orang-orang yang menyemir sepatu untuk kebutuhan hidup mereka. Lihatlah anak-anak jalanan yang mencari rejeki dengan berjualan koran dan makanan kecil. Adakah kita bertanya di dalam hati, “apakah hari ini mereka telah makan?” Sesekali coba kita lihat di perkampungan kumuh. Kita lihat wajah-wajah mereka yang ceria sekalipun mereka kelaparan. Kita lihat wajah-wajah mereka yang ceria sekalipun bisa saja saat itu juga mereka digusur oleh Pemkot karena mereka dianggap merusak pemandangan.
Tidaklah kita melihat rahmat Allah ada diantara mereka? Dengan membantu mereka, meringankan beban mereka? Apakah hanya pada bulan Ramadhan saja kita ingat mereka? Lalu kemanakah 11 bulan yang lalu diri kita berada? Oh ya, diri kita berada di pasar, diri kita berada di rumah makan enak, diri kita memakai pakaian, diri kita tersenyum, sementara selama 11 bulan mereka menahan lapar, selama 11 bulan mereka menangis, selama 11 bulan mereka tidak berpakaian, apakah hanya di bulan Ramadhan saja kita ingat mereka?
Wahai saudaraku, aku ajak lagi melihat seorang anak yatim. Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Ditinggal mati oleh sang ayah tercinta. Coba lihatlah diri anda yang mempunyai kedua orang tua! Apakah kedua orang tua anda, anda sia-siakan, ataukah anda hormati? Lihatlah lagi kepada wajah anak-anak yatim, sekalipun mereka tersenyum kepada kita, tapi sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam mereka merindukan ayah mereka, merindukan ibu mereka. Mereka ingin seperti kita, namun apakah kita bisa merasakan mereka? Pikirkan ketika mereka tidak bisa mendapatkan figur seorang ayah yang akan menjadi panutan dia, yang seharusnya mengajarkan ketegasan, yang seharusnya menuntun ia di dunia ini. Lihatlah juga ketika mereka tidak mempunyai seorang ibu, mereka kehilangan kasih sayang ibu yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka iri melihat teman-teman mereka mempunyai ibu, bagaimana dengan diri kita? Apakah kita akan menyia-nyiakan orang-orang tua kita?
Pernahkah kita menghardik anak yatim? Sungguh orang yang menghardik anak yatim adalah orang yang benar-benar mendustakan agama. Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
artinya:“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?Itulah orang yang menghardik anak yatim,” [Q.S Al Maa'uun: 1-2]
Kita melihat lagi dalam masalah bersedekah. Apakah hanya dalam bulan Ramadhan dan hari Jum’at saja kita ingat Allah dengan bersedekah? Apakah hanya dalam Ramadhan saja kita ingat berzakat? Padahal sedekah itu bisa menlindungi kita nanti di hari akhir, menjadi syafa’at kita. Apakah kita sudah aman dari adzab Allah di hari akhir dengan tidak mengeluarkan apa yang kita nafkahkan untuk Allah? Lihatlah diri kita, sehebat apa kita di dunia ini tanpa Allah? Apa prioritas kita di dunia ini?
Apakah kita hanya mengejar kehidupan dunia yang sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya? Lihatlah lagi ke dalam hati kita, apa yang dibutuhkan oleh jasad kita? Apa yang dibutuhkan oleh ruh kita? Kalau kita hanya memikirkan jasad saja maka kita salah, justru ruhlah yang membuat manusia itu mulia di mata Allah dan manusia. Ruh manusia itu harus diberikan siraman-siraman rohani, yaitu siraman-siraman yang bisa membersihkan jiwa, membersihkan hati, sehingga kebutuhan ruh tercukupi dan jasad kita akan lebih baik. Janganlah tertipu dengan kehidupan duniawi yang sementara. Dunia ini fana.
Tengok ke dalam diri, apakah kita takut mati? Coba ingatlah tentang maut! Kita mungkin takut mati karena belum siap terhadap amal-amal kita, namun siap atau tidak kita pasti mati. Karena itu apa yang kita persiapkan sebelum kita mati? Apakah kita mengira kita mati masih lama? Tidak ada yang tahu melainkan hanya Allah semata yang faham kapan kita mati. Lalu apakah kita tenang-tenang saja dalam hidup ini? Santai, leha-leha, sedangkan malaikat mau sudah siap untuk mengambil nyawa kita?
Inilah mungkin Ramadhan terakhir bagi kita, maka apakah sudah kita siapkan bagi kita untuk perjumpaan terakhir ini? Sudahkah kita berikan secara maksimal tenaga yang kita punya untuk beribadah kepada Allah khusus 10 hari terakhir ini? Para shahabat, lihatlah para shahabat ketika ingin berpisah dengan Ramadhan, mereka fokuskan pada saat terakhir-terakhir di bulan Ramadhan ini. Bahkan mereka takut amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa. Kalau orang-orang seperti para shahabat yang dekat dengan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam saja takut amal mereka tidak diterima, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah melebihi para shahabat?
Sesungguhnya banyak kemaksiatan yang kita lakukan, namun kita berbohong kepada diri sendiri dengan mengatakan “sesungguhnya ini adalah dosa kecil”. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu dalam sebuah atsar berkata, “Orang yang beriman itu ketika ia melakukan dosa kecil, maka ia merasa seperti gunung itu akan dijatuhkan kepadanya”. Maka dari itulah Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam berpesan kepada kita setiap kita melakukan dosa-dosa kecil, langsung kita berbuat baik, agar dosa tersebut dihapuskan oleh Allah.
Yaa Allah, duhai pemilik Arsy yang Agung, aku memuji-Mu dengan pujian yang setinggi-tingginya. Tiada Ilah melainkah Engkau. Sesungguhnya aku adalah hamba dan Engkau adalah Tuhan. Sesungguhnya aku adalah Al Faqir, sedangkan Engkau adalah Al Ghaniyun Hamiid. Tiadalah pemilik antara timur dan barat kecuali Engkau. Engkaulah yang memberikan kami hidup, Engkaulah yang mengajarkan kepada kami Al Qur’an.
Yaa Allah, bulan Ramadhan sebentar lagi akan pergi meninggalkanku, sedangkan aku tidak merasa cukup atas sebulan yang Engkau berikan di bulan Ramadhan ini. Dosa-dosaku ibarat gunung Yaa Allah, dosa-dosaku ibarat lautan, dosa-dosaku ibarat buih di lautan, dosa-dosaku ibarat tujuh bumi. Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang dha’if. Banyak sekali waktuku terbuang sia-sia. Banyak sekali aku melupakan-Mu. Ya Allah, Engkau adalah cahaya, Engkau adalah pemberi petunjuk, maka tunjukillah kepadaku jalan yang lurus. Dan janganlah Engkau sesatkan diriku setelah Engkau berikan kepadaku petunjuk. Yaa Allah, hatiku kotor penuh noda, aku memohon kepada-Mu Yaa Allah, bersihkan hatiku dengan salju, air, dan air es. Yaa Allah, Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kesulitan yang amat sangat. Setelah Ramadhan lewat ini Yaa Allah, apakah aku masih bisa bersujud lagi kepada-Mu? Ataukah aku akan menjadi makanan tanah? Yaa Allah, apakah aku masih bisa menatap matahari di kala pagi? Ataukah ini adalah Ramadhan terakhirku?
Yaa Allah, terimalah amal-amalku, terimalah puasaku, sholatku dan ibadah-ibadahku. Yaa Allah, aku telah berusaha mencontoh nabi-Mu, mengikuti jejak-jejak rasul-Mu, mengikuti sunnah-sunnahnya. Yaa Allah, kalau amal-amalku ada yang jelek Yaa Allah, maka ampunilah aku. Yaa Allah yang Maha Pema’af, maafkanlah aku dan lindungilah aku dari kejelekan amal-amalku, lindungilah diriku dari kejahatan jiwa. Yaa Rabbi, lindungilah aku dari hatiku yang selalu mengajak kepada kejelekan. Lindungilah diriku yang terkadang tanpa pikir panjang mengikuti kata hatiku yang salah. Yaa Allah, sungguh Engkau Al Ghafuur, Ar Rahmaan dan Ar Rahiim. Ampunilah aku, Rahmatilah aku, dan sayangilah aku.
Yaa Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku ke dalam jalan agama ini. Dan jangan kau balikkan hatiku kepada kesesatan. Yaa Allah, lindungilah aku Ya Allah dari godaan syetan yang terkututk. Telah Engkau belenggu mereka di bulan ini, namun mereka akan Engkau lepas lagi setelah ini. Sesungguhnya tak kudapat melihat mereka, namun Engkau maha Melihat, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikannya, dari tiupan-tiupannya dan dari segala tipu muslihatnya.
Aku bersimpuh kepada-Mu Yaa Rabb, mungkin ini adalah sujudku yang terakhir, mungkin hari ini adalah hari-hariku yang terakhir, mungkin besok aku akan dimasukkan ke liang lahat, mungkin besok aku akan ditanyai oleh Malaikat penjaga alam kubur. Mungkin besok aku akan diperlihatkan apa yang akan aku dapatkan di akhirat nanti. Mungkin besok aku tidak bisa lagi mendengar adzan, mungkin besok aku tidak bisa lagi melihat apapun selain wajah malaikat maut.
Yaa Allah, ampunilah aku, terimalah amal-amalku, dan jadikanlah aku golongan orang-orang yang bertaqwa.
Tak Perlu Dibesar-besarkan dan Tak Perlu Ditanggapi
by Abu Aisyah on Aug.25, 2008, under Uncategorized
Beberapa waktu lalu sempat nama saya diambil oleh Ibrahim di blognya. Namun setelah saya pertimbang-timbangkan, banyak mudharatnya kalau saya melawan orang tersebut. Akhirnya saya memilih jalan menghapus apapun tentang dirinya. Dan beberapa blog aku hapus juga, biar tidak ada fitnah di kemudian hari. Yang pada akhirnya percuma untuk meladeni orang seperti Ibrahim.
Pada akhirnya cukuplah hanya Allah yang Menjadi Saksi atas segala perbuatannya dan diriku. Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui, saya hanya bisa bersabar saja, karena itu lebih baik.
Saya beritahukan asal mula, mengapa Ibrahim mulai mencatut nama saya di situsnya. Yaitu karena satu alasan yang akhirnya setelah itu segala hal yang tidak ada hubungan dengan hal itu ikut ia catut. Alasan itu adalah hanya gara-gara saya menjadi moderator di salah satu kolom di MyQuran. Di kolom itu orang-orang yang aqidahnya bercampuran menyerang tulisan-tulisan salafi dan seolah-olah saya terkesan membiarkannya.
Memang kalau orang yang sudah menutup telinganya, nggak akan mau mendengarkan perkataan saya, ataupun alasan lainnya. Maka dari itu saya sudahi menyampaikan alasan-alasan saya kenapa banyak tulisan yang seolah-olah menyerang salafi, tapi saya tidak bertindak. Jawabannya hanya satu, karena saya manusia biasa. Sebagai seorang manusia biasa, saya bisa khilaf, saya bisa salah. Di kolom DDI adalah kolom pertama dan terakhir saya menjadi moderator.
Sudah sejak tahun 2007 saya ingin keluar, tapi tidak pernah ada satupun teman-teman salafi yang mau menggantikan saya di forum tersebut. Bahkan terkesan mereka menghindar, sehingga menilai buruk diri saya padahal saya menjadi momod untuk menghalangi orang-orang hizb menyerang salafi. Kalau dulu anda sudah join dari awal, maka anda akan faham bagaimana diri saya di MyQuran. Saya orang yang selalu melawan pemikiran-pemikiran hizb, Syi’ah, Ingkarussunnah, Komunis, Atheis dan lain-lain. Sebelum postingan-postingan saya dihapus dan setelah ini mungkin google tidak akan lagi melacak tulisan-tulisan saya selain di 2 tempat yaitu blog ini dan juga di blog saya di wordpress, sebenarnya saya sudah menduga Ibrahim akan melacak tulisan saya.
Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan kepada kalian semua yang membaca tulisan ini. Yaitu,
1. Saya bersaksi bahwa Tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah dan aku tidak berbuat syirik.
2. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
3. Jalan yang paling benar adalah jalan yang telah ditempuh oleh Muhammad dan para shahabat. Jalan itulah yang paling benar dan yang paling lurus. Kalau toh anda mendapati diri saya tidak sesuai dengan jalan mereka, maka ikutilah jalan yang dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam tersebut. Karena jalan itu adlaah jalan yang akan menyelamatkan kalian.
4. Janganlah kalian tiru perbuatan-perbuatan burukku, tapi ambillah apa yang benar yang telah aku sampaikan, sebab kalau kalian menilai diriku dari perbuatan-perbuatan, maka sungguh aku bukanlah seorang nabi dan Rasul. Aku hanyalah seorang hamba yang sering berbuat kesalahan. Bahkan Allah bisa membolak-balikkan hatiku, tetapi ajaran Allah dan Rasul-Nya tetaplah lurus sampai hari akhir.
5. Belajarlah dien, amalkan dan dakwahkan. Kalaupun kau masih berbuat maksiat sedangkan kau tahu suatu ayat, maka dakwahkan ayat itu. Jangan melihat keburukanmu dulu seperti orang-orang yahudi yang tidak beramar ma’ruf lantaran mereka merasa diri mereka bukan orang yang baik.
Akhirnya, segala amal nantinya akan kembali kepada Allah. Segala perbuatan baik dan buruk akan kembali kepada-Nya. Kalau toh Ibrahim ini masih menuliskan yang jelek-jelek, bahkan sampai membuat perpecahan di dalam dakwah salafiyin, sesungguhnya ia telah menceraiberaikan dirinya sendiri. Banyak orang yang sudah menasehatinya, maka dari itu itu adalah urusan Allah dengan dirinya sendiri.
Launching Blog Abu Aisyah
by Abu Aisyah on Feb.04, 2008, under Uncategorized
Assalaamu’alaykum warohmatullohi wabarokaatuh.
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga untuk mengurus domain dan hosting. Sebenarnya agak sayang juga untuk membuat blog dengan nama resmi dari diri pribadi. Terlebih lagi blog saya yang di blogsome dan wordpress juga sudah banyak postingan. Maka dari itu blog tersebut tidak mau saya export ke sini, dikarenakan hal itu adalah ciri khas saya. Insya Allah saya tetap menulis di al atsari, karena di sana adalah khusus untuk tempat saya menuangkan ilmu-ilmu agama dan banyak teman-teman yang juga melihatnya.
Namun untuk blog resmi ini, saya khususkan untuk diri saya pribadi, dan tak lupa juga secara resmi menghentikan postingan saya di blogsome. Untuk konsentrasi di sini. Kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan di blog tersebut saya sangat mohon maaf. Semoga blog ini bisa bermanfaat untuk semuanya.




