Tag Clouds

Pesta Blogger 2010

Ramadhan Blogging

Tantangan 31 Hari Ngeblog, Anda bisa?

Follow me on Twitter

Member of LUG STIKOMP

Short Comments


ShoutMix chat widget

Adds

Pensiun Sepenuhnya Ataukah Berkarya

Terkadang dalam pikiran kita timbul sebuah rencana untuk masa depan. Rencana itu seperti, punya anak, menyekolahkan anak setinggi-tingginya, menjadikan mereka berbakti, kemudian menabung untuk hari tua, pensiun dengan menikmati uang yang ada, setelah itu tinggal duduk atau sambil memelihara burung atau hewan kesayangan kemudian, sesekali anak atau cucunya datang ke rumah untuk menengok. Tidak melakukan apa-apa dan tidak menghasilkan apa-apa ketika tua, karena mungkin saja ketika tua, tenaga tidak kuat dan tidak bisa berbuat banyak, mungkin juga karena kepikunan yang akut, atau mungkin lumpuh karena osteoporosis, atau hipertensi sehingga kena stroke.

Saya menulis demikian karena melihat kebanyakan orang-orang yang berpikiran “is all about the money” seperti itu. Bukan saya hendak merendahkan orang-orang seperti mereka, tapi menurut saya, hal-hal yang seperti demikian saya rasa tidaklah begitu menarik. Bayangkan saja, disaat-saat terakhir ajal menjemput kita sama sekali tidak melakukan apapun yang bisa dibuat untuk berkarya. Hanya istirahat dan menikmati hasil jerih payah kita ketika masa muda dulu. Apakah seperti ini hidup itu?

Hidup itu sangat sedikit waktunya, bahkan hanya sebagai tempat singgah untuk minum saja. Ibarat musafir hidup itu hanya persinggahan sementara, kalau anda pergi dari Surabaya ke Jakarta, maka hidup itu ibarat seperti jalur pantura. Iya, hanya sekejap. Percuma rasanya apabila hidup yang sesingkat itu dipikiran kita hanya uang dan uang. Padahal yang lebih daripada itu sebenarnya ada banyak. Seperti berdakwah, aktif di organisasi, menulis, sehingga pikiran-pikiran kreatif kita tetap terus eksis dan berkarya. Dan hal inilah yang menjadi diskusi yang menarik dengan orang tua saya. Di saat mereka inginkan hal demikian terjadi kepada saya, saya menolak.

Bagi saya hidup itu adalah beramal, berbuat, mengajari, dan berjuang. Tidak duduk di kursi roda ataupun dibantu oleh anak-anak atau cucu-cucu mereka untuk disuapi makan, atau untuk dihibur, justru hidup itu adalah mengajari mereka sampai maut menjemput. Ya, tentu saja. Berdakwah sampai akhir, sampai nyawa ini meregang, sebagaimana para salafush sholeh dulu mencontohkan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulloh sampai beliau meninggal tidak pernah berhenti berjuang untuk menegakkan sunnah. Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh sampai beliau wafat pun tetap saja beliau berkarya. Artinya mereka tidak mau duduk, mereka tidak mau menikmati hidup yang hanya sesaat ini hanya untuk sebuah hal yang sia-sia. Masa tua memang masa yang rentan terhadap penyakit-penyakit seperti pikun, stroke, lumpuh dan lainnya, tapi itu tidaklah menjadi halangan kita untuk berhenti berkarya, dan meninggalkan segala sesuatu yang sia-sia. Di dalam hidup ini tidak ada kata istirahat.

Saya tidak akan berhenti untuk terus menulis dan membuat karya, bagi saya kaki ini istirahat setelah menyentuh pintu surga.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>