Abu Aisyah Official Web Site

Hukum yang Meradang Manusia yang Malang

by Abu Aisyah on Nov.20, 2009, under Catatanku

Indonesia berada dalam sebuah siklus yang akan membuat negara ini runtuh dari dalam. Yaitu siklus hukum, di mana rasa keadilan sudah tidak ada lagi, yang ada adalah uang yang berbicara. Mulai dari kalangan atas sampai bawah, hukum bisa dibeli dengan uang. Barangsiapa yang mempunyai uang besar maka ialah yang menang. Seperti kasus baru-baru ini yang terjadi di masyarakat kita, seorang nenek-nenek yang hanya mengambil beberapa kakau, nggak sampai 5 buat dituntut di pengadilan.

Berapa sih harga 1 buah kakao di pasar? Kenapa sampai harus membayar dengan meringkuk di penjara? Lalu di manakah aparat ketika para pejabat seperti menteri, DPR, polisi, kejaksaan yang melakukan politik uang, yang menyuap, korupsi, mana tegaknya hukum di negara ini. Indonesia sudah seperti dunia yang mana hanya orang berduit yang menang. Virus-virus kapitalis sudah meradang di jiwa-jiwa rakyatnya. Pemilu yang terjadi kemarin pun tak lepas dari yang namanya politik uang. Banyak koq yang memilih calon presiden karena iming-iming uang Rp. 100.000,-. Kalau minta bukti tidak usah bukti, kalau anda jadi rakyat kecil akan melihatnya.

Kelemahan rakyat kecil adalah uang. Ketika dunia ini di buat oleh Allah, uang belum dikenal, setiap manusia dari keturunan Adam adalah berbagi, saling membantu, saling menolong untuk kemudian mereka semua merasa seperti satu saudara. Hingga kemudian keadaan menggiring mereka ke arah yang lain. Apabila hukum sudah bisa dibeli dengan uang, maka ini adalah kelemahan hukum buatan manusia. Selama manusia tidak kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mereka akan mendapatkan kerugian.

Kerugian-kerugian itu bisa dilihat dari para manusia yang mereka mendapatkan kerugian dengan mematuhi hukum perundangan yang ada di Indonesia. Indonesia yang berdiri di atas thoghut, berlandaskan asas thoghut, akhirnya sedikit demi sedikit mulai hancur karena thoghut tersebut. Kita sebagai manusia harus tunduk kepada aturan yang diberlakukan oleh sang Pencipta. Karena manusia itu tidak punya hak apapun di dunia ini, terkecuali diizinkan oleh sang Pencipta. Coba anda pikirkan, setiap yang diberikan oleh yang Kuasa. Berapa kali anda berterima kasih? Berapa kali anda bersyukur setiap harinya?

Pantaskah orang yang tinggal di bawah kolong langit-Nya punya aturan sendiri? Mengatur hukum sendiri, dengan menulis sendiri dan memberi sanksi yang mana sanksi itu tidak pernah diturunkan oleh-Nya?

Dinilai dari kebenaran, kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah adalah mutlak benar. Hukum Al Qur’an dan As Sunnah adalah hukum yang paling benar dari setiap hukum yang ada. Setiap tindakan dosa sudah ada sanksinya, entah itu mencuri, berzina, merampok, membunuh ataupun korupsi sudah ada aturan bagaimana sanksinya di Al Qur’an dan As Sunnah. Islam itu bukan saja mengatur bagaimana caranya beribadah sholat, zakat, puasa. Islam adalah agama yang membawa hukum, membawa aturan dari langit, yang mana aturan itu harus dilaksanakan sebagai manusia yang mana mereka menyebut diri mereka mengabdi kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi.

Kata Abdi, berarti adalah seorang budak. Manusia adalah seorang hamba, dan Allah adalah tuannya. Jadi apabila seorang hamba tidak patuh terhadap Tuhan-Nya, maka sudah pasti sanksi yang diterima. Maka dari itulah aturan-aturan di dalam Islam sudah jelas sempurna dan benar-benar bisa diterima dengan akal. Banyak manusia yang tidak menyadari hal ini, bahkan saya tahu sebagian besar para pakar hukum di Indonesia menyadari bahwa hukum yang ada di Indonesia itu lemah. Sekalipun dibentuk sebuah komisi yudisial  untuk melindungi orang-orang yang berbuat curang seperti “Mafia Peradilan”, tetap saja akan ada lubang.

Cara yang benar, satu-satunya adalah hanya dengan berdakwah. Seandainya dakwah itu masuk kepada manusia-manusia pinggiran, yang mana kehidupan mereka masih sedikit, niscaya mereka semua tidak akan melakukan tindakan seperti yang dilakukan nenek pencuri buah kakao tersebut. Apabila dari kalangan bawah dakwah sudah benar, maka jangan heran kalau orang-orang dari kalangan atas akan mengikut yang bawah. Sebab yang memilih para pejabat adalah orang-orang dari kalangan bawah. Jangan salahkan pemimpinnya, kalau rakyatnya juga seperti sifat para pemimpinnya. Kita harus sadari, bahwa manusia itu tidaklah sempurna, karena ketidak sempurnaan inilah, maka aturan-aturan yang di buat manusia pun sudah pasti jauh dari yang namanya sempurna.

Kalau kita bisa berpikir jernih, maka jawaban yang kita terima adalah Allah adalah Maha Sempurna, seluruh yang diciptakan-Nya tiada kesia-siaan, dan kita adalah m anusia yang bodoh, dan sudah sepantasnyalah kita berserah diri kepada Allah, kembali kepada-Nya, mematuhi setiap firman-Nya dan sunnah rasul-Nya dengan sebenar-benarnya. Wallahua’lam bishawab.

:

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!