Hidup itu Seperti Antrian Tiket, Pertunjukan Theater Drama, dan Kebun Binatang
by Abu Aisyah on Nov.07, 2009, under Aktual, Catatanku
Ya, itulah yang terjadi di hidup ini. Manusia mengantri tiket untuk masuk ke pertunjukan Theater ataupun ke kebun binatang. Mereka rela menghabiskan uang mereka untuk mendapatkan tiket tersebut. Setelah tiket didapat dengan uang, mereka pun menikmati pertunjukan manusia-manusia lain di atas panggung. Atau mereka melihat-lihat binatang di kebun binatang. Melihat polah tingkah monyet, jerapah, burung-burung, hewan melata, dan sebagainya.
Inilah kehidupan. Kita setiap hari bekerja, membanting tulang, menghabiskan waktu di atas meja kerja, kemudian pulang ke rumah menghibur diri dengan pertunjukkan orang-orang di layar kaca, ataupun membaca koran yang isinya juga pertunjukkan. Dan terkadang sebagian diri kita mencontoh sifat-sifat mereka yang ada di Theater, ataupun meniru beberapa perilaku binatang di kebun binatang.
Di panggung drama, mungkin kita bisa meniru orang-orang yang baik. Menghadapi kesabaran dalam setiap adegan, bersungguh-sungguh dalam menangis, mempelajari setiap akting, setiap polah tingkah, atau malah kita terkesima dengan peran antagonis yang beringas, kejam, licik, atau mungkin kita lebih suka dengan orang biasa, peran pembantu, atau peran pengganti. Semuanya adalah kehidupan dunia yang rumit, tertata, dan sempurna. Tidak ada yang bisa menciptakan kehidupan seperti ini bagi makhluk seukuran manusia, atau bahkan lebih kecil, atau dia lebih besar dari manusia. Tiada satupun makhluk yang bisa menciptakan sebuah kehidupan lain. Setiap makhluk punya tugas masing-masing. Mereka adalah aktor, antagonis, protagonis, ataupun peran pembantu.
Kita sekarang ini dihadapkan pada sebuah panggung sandiwara yang besar. Sutradaranya tentu saja Tuhan Yang Maha Pencipta. Ialah yang memberikan pilihan-pilihan pada kita, seperti kita bermain pada game RPG, atau membaca novel-novel yang menuntun kita pada intrik-intrik yang memusingkan kepala. Setiap masalah selesai muncul masalah yang baru. Dengan melihat perpolitikan bangsa yang kian semrawut, kita semua melihat para kurcaci bergerilya mengisi kantong-kantong mereka dengan tumpukan uang api. Atau para penegak hukum yang saling menjatuhkan, mereka yang seharusnya jadi penegak hukum lebih suka uang api daripada uang halal.
Pertunjukan buaya, monyet, dengan sifat-sifat mereka pun kita bisa lihat. Perebutan kekuasaan, perebutan duit, perebutan kursi, semuanya membuat masing-masing individu mengernyitkan dahi. Terkadang ada yang rela melupakan cowoknya sendiri hanya untuk menyaksikan pertunjukan di pentas perpolitikan Indonesia.
Apa yang anda saksikan sekarang di dunia politik Indonesia, tak ubahnya anda mendapatkan tiket gratis tanpa membayar. Seluruh media menyorot persoalan para pejabat negara, bak tontonan layar tancep yang dulu ada di desa-desa. Kemudian anda masuk menduduki kursi penonton, nah silakan lihat para pejabat berkoar, berargumen. Anda tertawa dengan tangisan buayanya, anda tertawa dengan arogansinya, anda tertawa dengan terpingkal-pingkal bahkan sampai hampir tersedak, atau kadang menyembur minuman ke depan, tanpa peduli penonton di depan anda. Atau anda yang masuk ke kebun binatang, anda bisa pilih sifat-sifat binatang yang mungkin sesuai dengan karakter anda. Mengindikasikan diri sendiri dengan buaya, ataupun cicak ataupun monyet ataupun babi. Semuanya ada di kebun binatang.
Sungguh aneh manusia, sungguh aneh juga mereka yang ada di kursi panas. Apakah mereka tidak berpikir kalau besok dunia bisa saja berhenti berdetak. Mungkin juga besok anda-anda dipanggil langsung keluar dari panggung sandiwara. Atau anda lupa akan diri sendiri, sehingga terjebak di dalam kebun binatang. Anda itu butuh peta. Peta itu tidak akan menyesatkan anda. Tentu saja, peta itu adalah Iman dan Taqwa. Mereka yang sudah duduk di atas, biasanya tidak lagi memandang ke bawah, biasanya mereka membuang peta, seolah-olah sudah tahu jalan yang benar. Padahal manusia makhluk yang lemah yang mana mereka harus dipandu dan dibantu. Karena lemah itulah tidak boleh sombong.
Semoga saja, kita akan melihat Happy Ending dari tragedi cicak vs buaya ini. Biar tiket yang sudah ada di tangan kita tidak terbuang sia-sia.




