Abu Aisyah Official Web Site

Pejabat Good Guys vs Pejabat Bad Guys

by Abu Aisyah on Nov.05, 2009, under Aktual, Catatanku

Politik Pejabat Good Guys vs Pejabat Bad Guys
Tragedi Cicak vs Buaya yang baru saja terjadi di dalam tubuh pejabat negara bahkan sempat menjadi bahan demo warga negara Indonesia, sebagian besar dari kalangan mahasiswa itu ternyata mengarahkan politik negeri ini ke arah yang lebih buruk lagi. Seperti yang kita tahu bahwa Buaya mewakili tubuh Polri dan Cicak mewakili KPK saling bersitegang lantaran pemimpin KPK diamankan oleh kepolisian dengan tuduhan yang sepertinya tidak logis. Detailnya silakan baca koran atau berita-berita di televisi.
Yang saya komentari adalah adanya para pejabat good guys dan pejabat bad guys. Sebenarnya di Indonesia ini, sejak pertama kali Indonesia dipimpin oleh Soekarno selalu ada dua tipe pejabat ini. Terkadang kedok bad guys mereka ditutupi dengan melakukan kegiatan sosial, atau terkadang juga ditutupi dengan kegiatan “sok sial”, seperti sakit atau apalah sehingga mereka lolos dari pengamatan hukum atau pihak-pihak yang berwenang. Itu terjadi sejak era Orde Baru, atau mungkin setelah era reformasi. Akibat dari adanya pejabat-pejabat ini berdampak buruk bagi masa depan rakyat Indonesia, juga bagi para generasi muda yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di SD, SMP, ataupun SMA, bahkan sampai ke PN.
Saya masih ingat bagaimana guru-guru melakukan korupsi, bahkan kemudian ditiru oleh para siswanya ketika mereka masuk ke organisasi sekolah, semacam OSIS ataupun Pramuka. Hal itu terjadi ketika ORBA ataupun setelahnya. Korupsi tidak usah kita pungkiri sudah menjadi budaya dan mengakar di setiap tetesan darah manusia di Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana para mentri ORBA yang kemudian diusut harta kekayaannya yang tidak wajar selama menjadi menteri. Kita juga bisa melihat bagaimana orang-orang yang duduk di DPR, ataupun mereka yang ada di kejaksaan menerima dana ratusan juta hanya untuk urusan yang kecil.
Imbas dari banyaknya para pejabat Bad Guys ini adalah rakyat mulai tidak lagi percaya terhadap tatanan hukum yang ada di Indonesia. Seperti kita tahu hukum thoghut tetaplah hukum thoghut. Tidak ada yang sempurna pada tatanan hukum yang bisa diselewengkan menurut pemahaman orang yang lebih pintar. Maka dari itulah para orang tua dulu menyuruh kita untuk sekolah yang tinggi biar tidak dikibuli oleh orang pintar, yaitu mereka yang bermain-main dengan hukum.
Banyak sekali kisah film India yang menceritakan masyarakat yang menjadi pengadilan ketiga dikarenakan aparat hukumnya tidak lagi menjalankan hukum, tapi diperbudak oleh uang. Kalau dilihat-lihat bentuk negara kita, seluruh kejadiannya adalah sama seperti apa yang digambarkan film itu. Ironis memang, tapi inilah kenyataannya.
Imbas dari banyaknya kasus korupsi, suap, dan juga penyalahgunaan wewenang mengakibatkan banyak masyarakat dan rakyat yang tidak tahu masalah hukum ini dirugikan. Seperti PERDA yang melarang masyarakat berjualan di kawasan umum. Seandainya masyarakat kecil itu tahu dan mengerti tentang PERDA tersebut, niscaya tidak ada yang jualan. Sehingga tidak perlu Polisi Pamong Praja menertibkan lapak-lapak para pedagang kaki lima yang mereka hanya ingin mencari sesuap nasi dengan cara yang halal. Demikian juga kalau seandainya pemerintah lebih tenggang rasa kepada rakyat kecil yang tidak faham masalah hukum, tentunya tidak akan membabi buta langsung main gusur. Kalau itu terjadi, masyarakat tidak akan lagi percaya kepada pemerintah, tidak lagi percaya kepada hukum yang melindungi mereka. Akibatnya banyak kerusuhan, banyak demonstrasi, sehingga nilai hukum yang sering dipelintir oleh golongan Bad Guys berdasi itu akan jatuh.
Apa akibatnya kalau rakyat tidak lagi dilindungi? Apa akibatnya kalau rakyat kecil yang jadi korban terus-menerus dari polemik kerendahan mental orang-orang bagian atas? Negara akan terjadi chaos, dan akan berakibat buruk bagi generasi muda mendatang. Apa akibatnya ketika generasi muda nantinya mendapatkan sebuah rumah yang bobrok untuk ditempat tinggali? Sangat sulit memang seandainya anak dan cucu kita nantinya mewarisi sebuah hukum yang lemah, sebuah tatanan masyarakat yang hancur berantakan.
Jumlah pejabat yang Good Guys dibandingkan Bad Guys memang tidak bisa diprediksi. Tapi melihat dari masih adanya kemiskinan, pembangunan tidak merata, tidak terjaminnya keamanan, maka bisa dilihat secara tersirat bahwa penjabat Bad Guys di parlemen masih banyak. Tugas kita, sebagai orang yang mempunyai anak cucu, sebagai seorang guru, sebagai orang yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, kita harus mengajari generasi muda tentang kebenaran dan keadilan. Yaitu dengan dakwah, berdakwah kepada keluarga, kemudian kepada tetangga, lalu teman kerja, shahabat, teman, masyarakat. Sehingga apabila masing-masing bagian itu disentuh, niscaya rakyat pun akan memahami apa itu kebenaran dan keadilan. Sehingga, ketika nanti mereka memili para pejabat yang duduk di parlemen, niscaya mereka tidak akan memilih dari orang-orang Bad Guys. Dan kalau mereka memilih pemimpin, mereka tidak akan menyesal. Selama hal ini tidak disadari oleh diri kita, dan kita tetap mendukung tradisi buruk yang membudaya di negara ini, maka impian terciptanya masyarakat makmur sentosa sejahtera itu hanyalah impian di siang bolong.

Tragedi Cicak vs Buaya yang baru saja terjadi di dalam tubuh pejabat negara bahkan sempat menjadi bahan demo warga negara Indonesia, sebagian besar dari kalangan mahasiswa itu ternyata mengarahkan politik negeri ini ke arah yang lebih buruk lagi. Seperti yang kita tahu bahwa Buaya mewakili tubuh Polri dan Cicak mewakili KPK saling bersitegang lantaran pemimpin KPK diamankan oleh kepolisian dengan tuduhan yang sepertinya tidak logis. Detailnya silakan baca koran atau berita-berita di televisi.

Yang saya komentari adalah adanya para pejabat good guys dan pejabat bad guys. Sebenarnya di Indonesia ini, sejak pertama kali Indonesia dipimpin oleh Soekarno selalu ada dua tipe pejabat ini. Terkadang kedok bad guys mereka ditutupi dengan melakukan kegiatan sosial, atau terkadang juga ditutupi dengan kegiatan “sok sial”, seperti sakit atau apalah sehingga mereka lolos dari pengamatan hukum atau pihak-pihak yang berwenang. Itu terjadi sejak era Orde Baru, atau mungkin setelah era reformasi. Akibat dari adanya pejabat-pejabat ini berdampak buruk bagi masa depan rakyat Indonesia, juga bagi para generasi muda yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di SD, SMP, ataupun SMA, bahkan sampai ke PT.

Saya masih ingat bagaimana guru-guru melakukan korupsi, bahkan kemudian ditiru oleh para siswanya ketika mereka masuk ke organisasi sekolah, semacam OSIS ataupun Pramuka. Hal itu terjadi ketika ORBA ataupun setelahnya. Korupsi tidak usah kita pungkiri sudah menjadi budaya dan mengakar di setiap tetesan darah manusia di Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana para mentri ORBA yang kemudian diusut harta kekayaannya yang tidak wajar selama menjadi menteri. Kita juga bisa melihat bagaimana orang-orang yang duduk di DPR, ataupun mereka yang ada di kejaksaan menerima dana ratusan juta hanya untuk urusan yang kecil.

Imbas dari banyaknya para pejabat Bad Guys ini adalah rakyat mulai tidak lagi percaya terhadap tatanan hukum yang ada di Indonesia. Seperti kita tahu hukum thoghut tetaplah hukum thoghut. Tidak ada yang sempurna pada tatanan hukum yang bisa diselewengkan menurut pemahaman orang yang lebih pintar. Maka dari itulah para orang tua dulu menyuruh kita untuk sekolah yang tinggi biar tidak dikibuli oleh orang pintar, yaitu mereka yang bermain-main dengan hukum.

Banyak sekali kisah film India yang menceritakan masyarakat yang menjadi pengadilan ketiga dikarenakan aparat hukumnya tidak lagi menjalankan hukum, tapi diperbudak oleh uang. Kalau dilihat-lihat bentuk negara kita, seluruh kejadiannya adalah sama seperti apa yang digambarkan film itu. Ironis memang, tapi inilah kenyataannya.

Imbas dari banyaknya kasus korupsi, suap, dan juga penyalahgunaan wewenang mengakibatkan banyak masyarakat dan rakyat yang tidak tahu masalah hukum ini dirugikan. Seperti PERDA yang melarang masyarakat berjualan di kawasan umum. Seandainya masyarakat kecil itu tahu dan mengerti tentang PERDA tersebut, niscaya tidak ada yang jualan. Sehingga tidak perlu Polisi Pamong Praja menertibkan lapak-lapak para pedagang kaki lima yang mereka hanya ingin mencari sesuap nasi dengan cara yang halal. Demikian juga kalau seandainya pemerintah lebih tenggang rasa kepada rakyat kecil yang tidak faham masalah hukum, tentunya tidak akan membabi buta langsung main gusur. Kalau itu terjadi, masyarakat tidak akan lagi percaya kepada pemerintah, tidak lagi percaya kepada hukum yang melindungi mereka. Akibatnya banyak kerusuhan, banyak demonstrasi, sehingga nilai hukum yang sering dipelintir oleh golongan Bad Guys berdasi itu akan jatuh.

Apa akibatnya kalau rakyat tidak lagi dilindungi? Apa akibatnya kalau rakyat kecil yang jadi korban terus-menerus dari polemik kerendahan mental orang-orang bagian atas? Negara akan terjadi chaos, dan akan berakibat buruk bagi generasi muda mendatang. Apa akibatnya ketika generasi muda nantinya mendapatkan sebuah rumah yang bobrok untuk ditempat tinggali? Sangat sulit memang seandainya anak dan cucu kita nantinya mewarisi sebuah hukum yang lemah, sebuah tatanan masyarakat yang hancur berantakan.

Jumlah pejabat yang Good Guys dibandingkan Bad Guys memang tidak bisa diprediksi. Tapi melihat dari masih adanya kemiskinan, pembangunan tidak merata, tidak terjaminnya keamanan, maka bisa dilihat secara tersirat bahwa penjabat Bad Guys di parlemen masih banyak. Tugas kita, sebagai orang yang mempunyai anak cucu, sebagai seorang guru, sebagai orang yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, kita harus mengajari generasi muda tentang kebenaran dan keadilan. Yaitu dengan dakwah, berdakwah kepada keluarga, kemudian kepada tetangga, lalu teman kerja, shahabat, teman, masyarakat. Sehingga apabila masing-masing bagian itu disentuh, niscaya rakyat pun akan memahami apa itu kebenaran dan keadilan. Sehingga, ketika nanti mereka memili para pejabat yang duduk di parlemen, niscaya mereka tidak akan memilih dari orang-orang Bad Guys. Dan kalau mereka memilih pemimpin, mereka tidak akan menyesal. Selama hal ini tidak disadari oleh diri kita, dan kita tetap mendukung tradisi buruk yang membudaya di negara ini, maka impian terciptanya masyarakat makmur sentosa sejahtera itu hanyalah impian di siang bolong.

:, , , , ,

Leave a Reply

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!