« UU Anti Pornografi Telah Disahkan Bagaimana Selanjutnya? | Home | Cuaca Tak Menentu, Hati-hati Flu »
Teringat Kenangan Naik Kereta Api
By Abu Aisyah | November 7, 2008
Kereta Api merupakan sebuah alternatif kendaraan yang dipakai orang-orang ketika mereka ingin mudik ataupun ingin pergi keluar kota. Hebatnya, kendaraan ini sudah ada sejak abad ke 19. Di Indonesia sendiri kereta api adalah kendaraan terbesar pertama yang banyak digunakan oleh masyarakat. Umumnya mereka memakainya untuk pergi antar kota. Dan aku adalah salah satu penggemar kendaraan ini. Selain karena harga tiketnya murah, kereta api juga bisa menjadi sarana alternatif untuk melihat kehidupan sosial masyarakat di Indonesia, sehingga kita bisa mendapatkan banyak pelajaran.
Tercatat tahun 2002 adalah aku pertama kalinya sendirian pergi ke Surabaya dengan menggunakan kereta. Terus terang berita tidak sedap tentang banyaknya copet, atau preman yang sering mangkal di Terminal Bungur Asih membuatku kurang enak untuk naik bus. Karena itulah aku pakai kereta api, yang memang terkenal murah, tapi juga kotor, dekil dan harus berdesak-desakan kalau penuh. Apalagi ketika kereta api tersebut terlambat. Tercatat setiap kali aku menunggu kereta api ke Surabaya di stasiun Kediri, selalu terlambat. Hanya sekali saja yang ontime, yaitu ketika aku harus buru-buru ke Surabaya pada saat acara PMB.
Ada saja yang bisa kita jumpai di kereta api, yaitu tempat duduknya yang tidak terawat. Apalagi kalau kita naik kelas ekonomi. Jangan salahkan keretanya kalau anda tiba-tiba merasa ada benjolan di punggung, atau sekitarnya. Sebab tak sedikit kursi-kursi yang ada di kereta itu mengandung serangga, kepiding atau kutu. Bahkan saya menjumpai sarang semut dan kecoa malah. Dan yang paling tidak enak juga adalah toilet di kereta api tidak saya sarankan untuk anda. Kalau anda kebelet pipis sih nggak masalah, tapi untuk sampai buang air besar, sebaiknya anda tahan saja. Sebab toiletnya tidaklah toilet yang nyaman untuk anda duduk sambil membaca koran sementara hajat anda dibuang. Toilet di kereta api tidak memakai septik tank, sehingga kotoran akan langsung di buang di rel. Ini sih bukan rahasia umum, dan kalau anda perhatikan pasti kereta-kereta api ekonomi seperti itu.
Kemudian juga terkadang sampah-sampah yang ada di kereta api ini banyak sekali. Sampai-sampai ada “jasa kebersihan” yang menyapu lorong-lorong kereta api untuk mendapatkan rejeki. Ada yang bermodalkan sapu kecil, dan ada yang sampai memakai pengharum ruangan. Memang sih risih, apalagi kalau sampai ada penumpang yang berdiri, akan membuat kita lebih risih.
Pedagang asongan makin menambah suasana kereta api seperti swalayan berjalan. Segala kebutuhan sederhana (bukan kebutuhan pokok) datang silih berganti, mulai dari penjual kipas, nasi, air mineral, pemotong kuku, sampai buku TTS pun ada yang jual. Bahkan terkadang ada yang menjual majalah-majalah atau media vulgar.
Ada yang agak sedikit menggangguku yaitu para pengemis. Ketika dulu aku pulang dari Bandung dengan kereta Eksekutif Mutiara Selatan, tidurku terganggu gara-gara anak-anak kecil yang menggedor-gedor gerbong untuk sekedar minta uang. Pas aku lihat dari balik jendela sangat terkejut, karena ternyata mereka sangat banyak. Seolah-olah uang itu segalanya bagi mereka. Aku sengaja nggak memberi mereka uang. Sebab hal itu akan mengakibatkan mereka selalu tergantung kepada orang lain dan tidak berusaha sendiri untuk mandiri. Didikan anak Indonesia kebanyakan memang seperti itu. Mereka dididik untuk menengadahkan tangan daripada memberi.
Maka dari itu tak perlu heran jikalau di Indonesia sering dijumpai pengemis di perempatan lampu lalu lintas, atau terkadang mangkal di terminal, kereta api dan berbagai fasilitas umum lainnya, atau bahkan langsung mencegat para murid SD, SMP, SMA atau di depan gerbang kampus. Namun beberapa memang tidak diperbolehkan bahkan sempat diusir oleh pegawai keamanan di instansi tersebut. Dan yang paling apes apabila ketemu dengan polisi pamong praja, maka para pengemis tersebut harus diangkut truk dan dibawa ke dinas sosial, diberi pengarahan dan dipulangkan. Ironis memang, Indonesia menjadi budak di negara sendiri. Sebab banyak orang yang pasrah terhadap kemiskinan mereka. Bahkan nggak bisa dipungkiri di salah satu desa di Jawa Timur ada yang seluruh penduduknya berprofesi sebagai pengemis. Sebab mereka tertarik karena ada salah seorang pengemis yang bisa membeli mobil. Na’udzubillah.
Kalau saja mereka tahu di neraka mereka akan mencakari wajah mereka sendiri dengan kuku mereka yang panas, niscaya mereka tak akan melakukannya. Aku berdo’a semoga tidak terjadi kepada anak-anakku dan keturunan-keturunanku.
Perusahaan Jawatan Kereta Api sepertinya tidak begitu perhatian terhadap masalah kereta api di negara ini. Ini bisa terbukti koq dengan tidak terawatnya kondisi kereta api, bahkan kalau sampai ada sabotase tentunya tidak bisa menyalahkan si pelaku begitu saja. Banyak sekali koq kejadian yang menimpa kereta api-kereta api di Indonesia yang terguling dan sebagainya dikarenakan baut atau relnya longgar. Sedikit banyak hal ini harus menjadi perhatian oleh PJKA.
Selama ini mungkin pernah kita pikirkan, kenapa sih koq tidak dibangun stasiun kereta api listrik seperti di luar negeri? Kalau menurut saya, pendapat pribadi nih. Masyarakat Indonesia belum siap untuk hal tersebut. Coba bayangkan saja, di Indonesia listrik saja bisa sampai terjadi pemadaman di beberapa wilayah. Belum lagi listrik yang digunakan untuk kereta api listrik ini, sudah pasti sangat besar sekali daya yang dibutuhkan. Bahkan bisa sampai membuat pemadaman berkali-kali, tentunya hal ini akan merugikan. Belum lagi ulah orang iseng yang mungkin ingin mengambil rel yang ada di rel kereta api listrik tersebut. Banyak faktor yang mungkin menjadi alasan Indonesia kurang siap. Apalagi mungkin masih banyaknya para pejabat yang ingin berkorupsi daripada harus memberikan ide positif ini.
Kenangan naik kereta yang paling aku ingat adalah ketika ada seorang nenek tua yang baru naik di daerah Peterongan. Di sana nenek tersebut sepertinya tidak membawa tiket. Namun dia mengatakan mau ke surabaya. Saat itu dia membawa barang dagangan, mungkin oleh pemeriksa karcis dianggap pedagang asongan. Saat kereta sudah berjalan nenek tersebut duduk di lantai yang kotor. Wah, koq sampai begitunya. Akhirnya aku yang mempersilakan duduk di tempatku. Nenek itu bilang terima kasih, sambil mendo’akan agar supaya aku cepet diketemukan dengan jodohku. Nah, ternyata tak berapa lama kemudian aku menikah. Akhirnya bisa aku raih sebuah kesimpulan, jangan sampai deh menyia-nyiakan do’a orang lain, sebab do’a seseorang yang ikhlas dan tulus bisa jadi do’a yang paling manjur. Aku kebanyakan meminta do’a dari orang-orang yang aku jumpai. Entah itu ustadz, teman, guru, atau keluarga-keluarga jauh. Sebab di dunia ini kita tak tahu bagaimana keputusan Allah, taqdir kita, yang penting kita berusaha dan berdo’a. Bukan begitu coy?!
Topics: Catatanku |


November 9th, 2008 at 9:26 pm
mas, doakan aku ya….
