« Produk-produk yang Terkena Isu Susu dari China | Home | Fatwa MUI tentang 1 Ramadhan ,1 Syawwal ataupun 1 Dzulhijjah »
Beberapa Pembahasan Seputar I’edul Fithri
By Abu Aisyah | October 6, 2008
I’edul Fitri telah tiba, dan banyak orang-orang yang saling bersilaturahim dan saling ma’af-mema’afkan. Padahal ma’af mema’afkan itu sebenarnya lebih afdhol dilakukan ketika bulan Ramadhan, demikian juga silaturrahim, soalnya di bulan Ramadhan pahala digandakan oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa.
Setelah satu bulan lamanya umat Islam menahan lapar dan haus, mereka sekarang telah meninggalkan Ramadhan yang tak akan bisa kita kembali lagi ke dalamnya, melainkan menunggu Ramadhan datang lagi tahun depan. Dan berharap agar seluruh amalan-amalan kebajikan yang telah dilakukan di bulan Ramadhan diterima semua oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa. Dan selama 1 tahun kedepan kita juga berharap agar dipercepat bertemu dengan Ramadhan, dan itulah yang dilakukan oleh para shahabat ridwanu ‘ajma’in.
Ucapan pada hari I’edul Fithri
Apa yang diucapkan pada hari I’edul Fithri?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab [Majmu Al-Fatawa 24/253] :
“Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied :
Taqabbalallahu minnaa wa minkum
“Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian”
Dan ( Ahaalallahu ‘alaika), dan sejenisnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata : Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.[ Al Jalal As Suyuthi menyebutkan dalam risalahnya " Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani" beberapa atsar yang berasal lebih darisatu ulama Salaf, di dalamnya ada penyebutan ucapan selamat ]
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] :
“Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata :
“Artinya : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.
Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka
Imam Ahmad menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)” [Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan]
Lalu bagaimana dengan Minal Aidin wal Faidzin?
Ucapan minal Aidzin wal Faidzin ini hanya terkenal di Indonesia saja, di negara-negara Islam selain Indonesia tidak pernah dikenal ucapan ini, adapun arti dari Minal Aidin wal Faidzin adalah Bagian dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Bukan berarti Mohon Ma’af Lahir Bathin. Sebagian orang berpendapat ini adalah do’a. Namun do’a tersebut tidaklah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Adapun kita lebih baik mengamalkan yang ada nashnya yaitu taqaballahu minna wa minkum.
Allah berfirman:
وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا
artinya: “Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah” [Q.S Al Baqarah: 41]
Ungkapan Lebaran
Salah satu istilah yang paling populer adalah “lebaran”. Berdasarkan linguistik (ilmu bahasa) ternyata tidak ada keterangan dan rujukan yang baku. Sehingga istilah “lebaran” diterima sebagai ungkapan khusus yang ada begitu saja serta hidup di dalam keseharian masyarakat luas. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun mengartikan kata “lebaran” sebagai “hari raya ummat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawwal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan sebelumnya (Ramadhan). Hari raya ini disebut dengan Iedul Fitri”, sedangkan “lebaran besar” adalah istilah untuk menandai hari raya Iedul Adha atau disebut juga “lebaran haji”. Tidak ada penjelasan dari mana asal usul kata ini dan apa saja rujukannya dan masyarakat juga tidak terlalu mempedulikannya.
Sebagian kelompok misalnya orang Jawa beranggapan istilah “lebaran” berasal dari ungkapan bahasa Jawa “wis bar (sudah selesai)”, maksudnya sudah selesai menjalankan ibadah puasa. Kata “bar” sendiri adalah bentuk pendek dari kata “lebar” yang artinya “selesai”. Bahasa Jawa memang suka memberikan akhiran “an” untuk suatu kata kerja. Misalnya asal kata “bubar” yang diberi akhiran “an” menjadi “bubaran” yang umumnya menjadi berkonotasi jamak. Kata “bubar” sendiri adalah bentuk populer/rendah dari kata “lebar”. Seperti diketahui Bahasa Jawa mengenal tingkatan bahasa yang berbeda dan berlaku untuk kelompok masyarakat tertentu. Kata “bubar” dan “lebar” maknanya sama, tetapi kata “bubar” digunakan oleh masyarakat awam, sedangkan kata “lebar” digunakan oleh para priyayi (bangsawan), sebagai istilah yang lebih halus/sopan.
Jadi ungkapan “wis bar” bentuk singkat ungkapan “wes bubar” yang berlaku untuk masyarakat awam. Sedang ungkapan “sampun lebar” digunakan oleh golongan masyarakat yang lebih tinggi tingkatan sosialnya. Selanjutnya kata “lebar” diserap ke dalam Bahasa Indonesia dengan akhiran “an”, sehingga menjadi istilah umum yang kita kenal sekarang yaitu “lebaran”. Artinya kurang lebih “perayaan secara bersama dengan handai taulan setelah selesai menjalankan ibadah puasa”.
Namun justru sangat jarang orang Jawa memakai istilah “lebaran” ini. Umumnya digunakan istilah “sugeng riyadin” yang artinya “selamat hari raya” sebagai suatu ungkapan sopan/halus dan “riyoyo” yang merupakan bentuk kasar/rendah-nya. Kalau kata kerja jamaknya bisa diduga menggunakan akhiran “an” yaitu “riyoyoan” alias merayakan hari raya. Selain itu ada ungkapan lain untuk menyebut “hari raya” yang maknanya sedikit berbeda yaitu “bada” yang berasal dari serapan bahasa Arab “ba’da” artinya “setelah”. Sehingga “riyoyoan” juga berarti “bada-an” yang bermakna “perayaan setelah berpuasa di bulan suci Ramadhan”. Ucapan “sugeng riyadin” biasanya kemudian diikuti dengan ungkapan permohonaan maaf “nyuwun pangaksami” (halus) atau “nyuwun pangapunten” (kasar) “sedoyo kalepatan” (segala kesalahan). Sedang kalau anak muda biasa to the point “sepurane yo” (maafkan ya).
Artinya ucapan selamat itu tidak berdiri sendiri melainkan segera diikuti ungkapan permohonan maaf yang menunjukkan kuatnya asimiliasi ajaran agama Islam ke dalam budaya perayaan Jawa tersebut. Meskipun ritual bermaaf-maafan, bersalaman, berkumpulnya kerabat dalam jumlah besar di dalam suatu acara khusus semacam “halal bi halal” ini tidak dikenal di arab dan di tempat masyarakat muslim lainnya. Di Indonesia, “halal bi halal” bahkan sudah dimulai sejak masih di lapangan atau masjid setelah sholat Ied. Bahkan sering dengan cara berbaris memutar diantara seluruh jamaah dan disertai mendendangkan syair shalawat “allahumma sholli ala muhammad, ya robbi sholli alaihi wassalim” secara bersama-sama.
Yang banyak menggunakan istilah “lebaran” justru masyarakat Betawi. Menurut mereka, istilah “lebaran” berasal dari kata “lebar” yang maknanya “luas” yaitu sebagai gambaran keluasan hati atau kelegaan setelah keberhasilan menuntaskan ibadah selama bulan suci Ramadhan dan kegembiraan dalam menyambut perayaan hari kemenangan dan karena bersilaturahim dengan sanak saudara dan handai taulan.
Orang Malaysia, ternyata juga menggunakan istilah “lebaran”, tetapi mereka juga tidak tahu dari mana asal usul istilah ini. Apakah karena meniru kebiasaan di Indonesia, ataukah memang ada keterkaitan dengan bahasa dan budaya Melayu? Sampai saat ini tidak ada rujukan, catatan atau bukti memadai yang bisa menjelaskannya.
Yang lucu adalah cerita asal usul kata “lebaran” ini menurut seorang anggota dan peserta diskusi di Detik Forum. Ceritanya ada 2 orang berlogat Medan sedang ngobrol:
si A : Cam mana ni, makan ta boleh, minum ta boleh, bersetubuh dengan istri sendiri di siang hari tak boleh. Sempit kale kau
si B : tapi selepas bulan ini lebaran lah kau.
Jadi, mungkin arti lebaran menurut orang Medan adalah lebih lebar, lebih bebas, lebih luas.
Catatan Kecil
Di hari Raya I’edul Fithri memang sebagian orang menggunakan momentum ini untuk saling berma’afan. Sekedar catatan, bahwa saling mema’afkan itu tidaklah hanya pada hari I’edul Fithri saja, atau hari-hari tertentu, tapi setiap kita ingat kita punya kesalahan dengan seseorang maka kita harus minta ma’af. Tak terkecuali orang yang sering kita ghibah kepadanya, ataupun tak sengaja kita punya rasa su’uzhan kepadanya baik disengaja ataupun tidak. Sebab pertanggungan jawab di hari akhir nanti lebih berat.
Pada dasarnya kepada seseorang yang punya salah kepada kita, kita sangat sukar untuk mema’afkan, namun alangkah mulianya perbuatan meminta ma’af tersebut. Mema’afkan adalah salah satu sifat rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana beliau mema’afkan seseorang yang telah membunuh Hamzah, paman beliau shallallahu’alaihi wa sallam, setelah sang pembunuh masuk Islam.
Hal yang sering kita tidak ingat setelah masuk I’edul Fithri adalah silaturrahim. Silah artinya menyambung, ar rahim artinya adalah rahim, yaitu tempat yang menampung manusia sebelum lahir ke dunia. Memang pada dasarnya orang-orang hanya ingat dengan saudara jauh ketika I’edul Fithri tiba, namun sebenarnya tidak demikian. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dekat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Beliau dikenal paling banyak menyambung tali silaturrahim. Bahkan Khadijah radhiyallahu’anha-ummul Mukminin-sendiri membenarkan ketika beliau sedang dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu.
Betapa miskinnya kita sebagai manusia kalau hanya ingat sanak family ketika merayakan I’edul Fithri. Bahkan betapa bakhilnya kita hanya karena I’edul Fithri saja kita ingat meminta ma’af, dan hanya pada Ramadhan saja kita ingat mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah. Sesungguhnya orang yang menang di bulan Ramadhan adalah mereka yang tetap istiqomah terhadap apa yang dilakukannya di bulan Ramadhan sampai ia menemui Ramadhan lagi.
Dan juga betapa malasnya kita kalau hanya di bulan Ramadhan saja kita qiyamul lail, sedangkan selepasnya kita berhenti untuk qiyamul lail. Allah lebih menyukai orang-orang yang istiqomah di atas jalan kebenaran. Dan benarlah apa yang difirmankan oleh Allah:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” [Q.S. Ali Imran : 133 ]
sumber:
1. Al Manhaj
2. Pataka
Topics: Aktual, As Sunnah, Catatanku, Fiqih |

