• Tags

  •  

    March 2008
    M T W T F S S
    « Feb   Aug »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Recent Posts

  • Recent Comments

  • Archives

  • Tanggal Hijriyah

  • Join Blogger-Ngalam

  • Adds

    Add to Technorati Favorites
  • Google Groups
    Subscribe to id-muslim
    Email:
    Visit this group

    « Menjadi Penulis ataukah Programmer | Home | Functions PDO PHP 5.1 »

    Perjalanan Pulang dari Tangerang

    By Abu Aisyah | March 24, 2008

    Hari Jum’at kemarin saya pulang dari Tangerang dengan menaiki pesawat Lion Air JT8969 tujuan Jakarta-Surabaya-Kupang. Pesawat mendapati delay yang lumayan lama 50 menit. Dan saya tidak pernah tidak kenal delay, selalu kena delay. Ada pengalaman yang menarik ketika saya pulang tersebut.

    Pesawat yang terombang-ambing hujan tersebut sesekali membuatku terbangun dari tidur. Karena semenjak beberapa hari ada di Tangerang, keadaanku mulai memburuk, tubuhku mulai terasa capek dan sangat tidak fit untuk mengatasi beberapa hal. Aku saja mengurungkan niat membaca “On Writing” di pesawat itu. Mataku selama kurang lebih 45 menit kupaksa untuk terpejam, sambil sesekali terbuka untuk melihat keadaan di luar yang hanya diselimuti awan putih dan kilat yang menyambar-nyambar.

    Aku tidak duduk di dekat jendela, aku nggak suka. Padahal biasanya aku sangat senang duduk dekat jendela, karena aku suka melihat pemandangan bumi dari atas langit ini. Hal-hal yang pertama kali aku inginkan adalah ingin bisa melihat Aisyah lagi. Terus terang salah satu alasanku untuk pulang adalah karena ingin bertemu dengan Aisyah.

    Setelah 70 menit berada di atas pesawat, akhirnya pesawat mendarat di aspal bandara yang basah karena hujan deras. Aku sempatkan untuk makan malam di sebuah restoran yang masakannya nggak begitu enak di bandara dan harus mengeluarkan uang Rp. 35.000,- hanya untuk segelas Capucinno, semangkuk nasi, dan semangkuk bistik yang aneh.

    Begitu selesai makan, aku turun untuk mencari taksi bandara. Dengan membayar sebesar Rp. 42.000,- aku akhirnya naik taksi tersebut untuk menuju ke terminal Bungurasih, sebenarnya uangku cukup untuk mengantarkan taksi itu sampai ke Malang, tapi aku mau menghemat biaya. Aku langsung disambut dengan salam hangat sang sopir, “Assalaamu’alaykum”. Aku balas, “Wa’alaykum salam warohmatullohi wabarokaatuh”.

    Di dalam taksi dia bertanya kepadaku asal dari mana, ngaji di mana dan sebagainya. Dan ternyata dia salah satu ikhwan salafi. Dia ngaji di salah satu daerah di Surabaya dekatnya Al Irsyad. Dia sebenarnya malah kepengen saya dianter sampai Malang. Wah nggak usah deh dengan uang Rp. 200.000,- harus dibuang hanya untuk menempuh perjalanan yang hanya makan uang Rp. 20.000,-. Diakan sedang dagang jasa, jadi maklum aja.

    Dia cerita banyak tentang weekend kemarin, bagaimana ada ibu-ibu anggota Jama’ah Tabligh yang ingin merayakan Maulid Nabi. Kami terjadi dialog yang paling nggak dialog yang baik, yang mana dialog itu membuatku jadi faham kalau sebenarnya aku ini harus lebih banyak belajar lagi. Dan dari situ pula kalau sebenarnya pekerjaanku sebagai programmer ini harus aku sudahi. Aku sudah tidak kuat lagi kalau untuk bekerja sebagai programmer lagi. Mungkin besok kalau sudah di KL (yang semoga diterima) selesai, aku bakal kerja yang lebih baik lagi, yaitu mungkin wiraswasta. Karena aku sudah capek bekerja seperti ini.

    Orang-orang menghabiskan banyak uang hanya untuk menjalankan sebuah ibadah yang tidaklah ada dalilnya. Sampai sekarang, pembicaraan itu masih berkesan ketika ada di dalam taksi itu. Sampai juga pada pembicaraan tentang Natal dan Maulid itu sebenarnya sama, cuman bahasanya aja yang berbeda, aku juga nggak heran kalau ada orang arab misuhi orang Jawa pasti dikatakan bagus kata-katanya. Lha gimana tidak? Membedakan Natal dan Maulid saja tidak bisa, subhanallah. Semoga Allah mengampuni orang-orang yang terjerumus ini, khususnya kaum muslimin yang memang masih awam.

    Topics: Catatanku |

    Comments